Merasa Kehilangan? Ingat 1 Hal Ini agar Hatimu Tetap Tenang

Semua yang kita cintai bisa pergi, bahkan Rasulullah pun wafat. Namun ada Satu yang takkan pernah meninggalkanmu. Temukan sandaran hakiki di sini.

Merasa Kehilangan? Ingat 1 Hal Ini agar Hatimu Tetap Tenang

Sahabat, apakah Anda sedang menghadapi fase transisi dan mencari cara mengatasi rasa kehilangan dalam hidup?

Mengalami perubahan adalah sebuah kepastian, mulai dari hal kecil yang mengusik rutinitas hingga ujian berat yang mengguncang jiwa.

Artikel ini mengupas refleksi pengalaman personal dalam menghadapi transisi kehidupan, sekaligus mengambil hikmah mendalam dari kisah para Sahabat saat wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Mari temukan kunci ketenangan batin dengan menyadari bahwa hanya Allah tempat bersandar yang abadi.

Ada Perubahan yang Biasa Saja, Ada yang Menimbulkan Rasa Kehilangan

Setiap manusia pasti akan menghadapi berbagai fase perubahan dalam hidupnya.

Ada perubahan yang terasa biasa saja dan tidak memberikan dampak emosional yang signifikan.

Namun, ada pula perubahan yang membuat kita terguncang hebat atau memunculkan rasa kehilangan yang mendalam.

Rasa sedih dan kehilangan ini umumnya muncul karena sesuatu yang biasanya selalu menemani keseharian kita tiba-tiba menjadi tiada.

#️⃣ Pindahnya Gerai Kopi Favorit. Misalnya saja, suatu pagi saya mampir ke gerai kopi favorit.

Selesai memesan kopi, kasirnya menyampaikan informasi bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka berjualan di lokasi tersebut.

Padahal itu hanya hal kecil, sekadar pindahnya coffee shop kesukaan saya.

Akan tetapi, kejadian itu sukses membuat saya sedikit merasa kehilangan.

Meskipun saya paling hanya membeli kopi dua kali dalam sebulan, saya sangat menyukai tempat tersebut.

Selain tempatnya yang nyaman buat membaca, ada nuansa personal di dalamnya, seperti saat saya datang dan membuka pintu kedai, staf di sana langsung ramah memanggil nama saya.

#️⃣ Bubarnya Kontrakan Bersama. Contoh sederhana lainnya terjadi pada tahun pertama saya kuliah di Universitas Indonesia (UI). Saya menyewa rumah kontrakan dekat kampus bersama enam orang alumni SMA yang sama, yang juga diterima di UI.

Kami memang sudah berteman akrab sejak masa SMA.

Ketika mengontrak bersama, keakraban itu semakin erat dengan berbagai aktivitas harian yang berkesan.

Misalnya, sesudah menunaikan sholat subuh, kami sering bergegas pergi ke rumah penjual nasi uduk seharga 500 rupiah karena khawatir kehabisan.

Di bulan Ramadhan, kami bersama-sama berangkat ke masjid dekat area kontrakan buat ikutan sahur dan buka puasa gratis.

Akan tetapi, memori kebersamaan satu kontrakan itu harus berakhir ketika tiga orang teman saya mendapatkan beasiswa berasrama, sehingga ketiganya terpaksa pindah.

Berkurangnya jumlah penghuni menyebabkan beban biaya kontrakan bagi kami yang tersisa terasa jauh lebih mahal.

Oleh sebab itu, pada tahun kedua perkuliahan, kontrakan kami pun resmi bubar.

Sejak momen tersebut, menjadi cukup sulit bagi kami untuk saling bertemu secara rutin akibat kesibukan akademik masing-masing.

#️⃣ Area Sekitar Kampus UI yang Terasa Asing. Kisah hidup lainnya berlanjut pada tahun 2023, saat saya mengikuti tes IELTS di Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia di Depok.

Dalam rangka bernostalgia masa-masa tinggal di dekat kampus UI tadi, di jeda sesi tes IELTS saya sengaja menyempatkan diri mampir ke sekitar area tempat saya pernah mengontrak dan ngekos itu.

Dengan berjalan kaki santai, saya melihat-lihat suasana sekitar yang ternyata sudah terasa jauh berbeda.

Salah satu cabang Warteg Shinta langganan saya dahulu kini sudah tidak ada.

Begitu juga dengan warung tenda biru tempat saya biasanya sarapan bubur kacang hijau atau mi goreng, semuanya sudah tutup permanen.

Bahkan, warung internet (warnet) yang menjadi lokasi andalan saya saat mengerjakan skripsi pun sudah raib.

Ternyata perubahan-perubahan pada hal kecil sekalipun tetap berpotensi membuat kita merasakan kehilangan.

Maka dari itu, apalagi jika dihadapkan pada perubahan hidup yang jauh lebih besar, tentu dampaknya akan terasa semakin memukul batin, bukan?

Nah, berbicara mengenai perubahan yang memicu rasa kehilangan mendalam, ada sebuah peristiwa besar di masa lampau yang menyimpan pelajaran tauhid sangat penting, yakni peristiwa wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Kehilangan yang Mengguncang Hebat: Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Pada masa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masih hidup, para Sahabat merasakan masa-masa keemasan yang sangat indah dan mengesankan.

Mereka hidup berdampingan membersamai sosok mulia yang amat mereka cintai, yakni Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Mereka mendirikan sholat berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, berjuang di jalan Allah bersamanya, serta menimba ilmu langsung dari lisan beliau.

Maka, sangat bisa dimaklumi betapa hebatnya guncangan jiwa para Sahabat ketika suatu hari mereka menerima kabar duka tentang wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Tidak heran apabila sejarah mengisahkan bahwa sebagian Sahabat awalnya sangat kesulitan untuk sekadar mempercayai kabar duka tersebut.

Sangat tidak mudah bagi mereka menerima kenyataan pahit bahwa sosok panutan yang sangat dicintai, pada hari itu telah wafat dan tidak akan lagi hidup di tengah-tengah umat.

Kunci Menghadapi Kehilangan Akibat Perubahan: Mengingat Allah

Sahabat, dalam menjalani dinamika kehidupan di dunia, kita tidak bisa selamanya berharap bahwa semua hal yang kita cintai akan terus bertahan tanpa perubahan.

Berbagai situasi hidup bisa berubah haluan, dan banyak hal berharga bisa hilang dari genggaman.

Bahkan, manusia paling mulia seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun pada akhirnya menemui ajalnya, yang mana kepergian beliau sangat memukul mental para Sahabat beliau.

Akan tetapi, betapapun segala hal yang ada di sekitar kita perlahan pergi menjauh, ada satu Dzat yang akan senantiasa hadir dan kekal abadi, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dialah Allah Yang Maha Hidup, yang akan selalu ada menemani ketika seseorang membutuhkan tempat bersandar dan memohon ketabahan.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan sebuah peristiwa bersejarah tentang perkataan bijak Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu untuk menenangkan hati para Sahabat setelah mendengar kabar wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada para Sahabat:

Amma ba’du, barangsiapa yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah wafat.

Dan barangsiapa yang menyembah Allah Azza Wa Jalla, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.

Lalu Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu membaca ayat:

“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.” (Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 30)

dan juga membaca ayat:

“(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul.

Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.

Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?

Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun.

Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Al-Qur’an Surah Ali-‘Imran ayat 144)

Ucapan tegas nan menyejukkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu tersebut sukses mengingatkan kembali kesadaran spiritual para Sahabat.

Mereka disadarkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah utusan yang sama seperti rasul-rasul pendahulunya, yang suatu saat pasti meninggalkan dunia yang fana ini.

Namun, Allah tetap ada dan Allah akan selalu ada.

Apa pun musibah dan ujian yang terjadi menimpa diri seorang hamba, ada Allah yang keberadaan-Nya begitu dekat.

Allah berjanji akan senantiasa mengabulkan permohonan hamba-Nya yang sungguh-sungguh berdoa kepada-Nya:

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat.

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.

Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku

dan beriman kepada-Ku

agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 186)

Kepada Allah Kita Berdoa, Lekas Dipulihkan Selalu

Dalam menjalani kehidupan di dunia yang sementara ini, seseorang pasti akan bertemu dengan siklus perubahan.

Ada perubahan kecil yang terasa biasa saja untuk dilalui.

Namun ada juga badai perubahan yang datang tanpa disangka-sangka, meninggalkan lubang kesedihan dan membuat seseorang merasa kehilangan arah.

Duka dan rasa kehilangan yang teramat besar pernah dirasakan oleh generasi terbaik umat ini, yakni para Sahabat, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dipanggil menghadap Sang Khalik.

Sebuah transisi drastis yang begitu memukul batin, di mana biasanya mereka bisa menatap wajah teduh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam setiap hari, tiba-tiba mereka tidak bisa lagi menjumpainya di muka bumi.

Maka, cara terbaik untuk bersabar adalah dengan segera mengembalikan segala urusan kepada Sang Pencipta.

Menyadari bahwa selalu ada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai tempat memohon pertolongan serta ketenangan hati, kita semua berdoa bisa segera dipulihkan dari pedihnya rasa kehilangan akibat berbagai ujian perubahan yang datang silih berganti sepanjang usia.

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: iStock.com / Hiroyuki Oda (Standard License)


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading