Sahabat, perjalanan hidup sering kali menguji seberapa kuat kita mampu mengendalikan amarah.
Terkadang tekanan rutinitas membuat kita kehilangan kontrol diri, dan sedihnya, justru orang-orang tercinta yang sering kali menjadi sasaran.
Untuk mencegah hal itu, kakak saya punya cara yang unik.
Dia menulis kalimat pengingat berbunyi “Jangan Marah” di selembar kertas dan menempelkannya di dinding rumah.
Dengan melihat tulisan tersebut, dia berharap bisa selalu ingat untuk menahan emosi.
Bicara tentang mengendalikan amarah, sebagai manusia biasa, saya harus mengakui bahwa saya beberapa kali pernah mengalami momen kehilangan kontrol diri.
Terkadang rasa tertekan dan kelelahan memang bisa membuat seseorang menjadi lebih temperamental.
Terkadang istri yang menjadi korban pelampiasan.
Di lain waktu, anak saya sendiri yang menjadi sasaran emosi tersebut.
Baca Juga: Sama Baiknya di Luar & di Rumah: Ujian Karakter yang Nyata
Sungguh, saya sama sekali tidak nyaman dengan kondisi itu.
Saya tidak bisa berdiam diri menyadari ada masa-masa di mana saya gagal menahan emosi terhadap hal-hal yang mestinya bisa dimaklumi. Perkara-perkara kecil yang seharusnya bisa dimaafkan dengan lapang dada.
Melupakan Kebaikan Anak Hanya karena Satu Kesalahan
Contohnya saja, pernah suatu malam anak saya yang saat itu baru berusia empat tahun mengompol.
Padahal sebelumnya saya sudah bertanya apakah dia mau ke toilet atau tidak. Anak saya menjawab tidak, dan saya pun percaya begitu saja.
Ternyata saya lupa menanyakannya lagi satu atau dua jam kemudian, dan dia pun akhirnya mengompol.
Saya sontak murka. “Yaah, gimana sih, kan ayah sudah bilang, jangan menahan pipis, mestinya tadi bilang!” tegur saya dengan nada tinggi.
Anak saya ketakutan dan menjawab sambil menangis, “Ayah jangan marah.”
Tidak lama berselang, ibu saya menghampiri dan berbisik pelan, “Jangan marah seperti itu, kasihan, nanti anak jadi trauma.”
“Iya,” jawab saya singkat, meski di dalam hati saya masih merasa kesal.
Istri saya kemudian datang, menggendong anak kami ke kamar mandi untuk memandikannya, sedangkan saya membersihkan lantai yang basah.
Selesai memeras kain pel, saya melihat anak saya terdiam mematung dengan raut wajah ketakutan.
Berbalut handuk, dia duduk bersandar di tangga lantai dapur.
Saya membiarkannya saja dan menyuruhnya jangan pindah tempat.
“Tunggu di situ!” ucap saya ketus.
Namun, ibu saya kembali datang dan berpesan agar saya selalu mengingat kebaikan anak, jangan sampai satu kesalahan kecil membuat saya melupakan semua hal baik tentangnya.
Nasihat itu langsung menyentuh kesadaran saya.
Benar juga, anak saya selama ini sangat bersemangat belajar membaca.
Dia juga rajin belajar huruf hijaiyah dan menghafal surah pendek.
Ada begitu banyak kebaikan lainnya yang tidak sepantasnya terlupakan hanya karena insiden mengompol.
Baca Juga: Lelah Berjuang tapi Tak Dihargai? Tenang, Allah Maha Tahu
Saya pun bergegas mencuci mainannya yang terkena pipis.
Malam itu, istri saya mengajak anak kami untuk meminta maaf kepada saya.
Padahal di lubuk hati terdalam, justru saya yang sangat ingin meminta maaf karena sudah gagal mengendalikan amarah.
Terdiam dan Berhitung: Reaksi Polos Anak yang Mengiris Hati
Dalam situasi lain, ketika kami sekeluarga sedang sibuk bersiap-siap untuk berangkat mudik, saya tengah fokus membalas pesan WhatsApp mengenai suatu urusan penting.
Di saat bersamaan, anak saya beberapa kali merengek karena mainan gasing plastiknya rusak, padahal baru saja dibeli tadi pagi di penjual pinggir jalan.
Dari beberapa gasing yang dibeli untuk dibagikan ke keponakan sebagai oleh-oleh mudik, ternyata milik anak saya yang rusak.
Karena sedang pusing membalas pesan sekaligus memikirkan persiapan mudik yang belum tuntas, emosi saya terpancing. Saya pun membentaknya dengan keras.
“NANTI DULU!”
Saya sendiri terkejut mendengar betapa kerasnya suara bentakan saya barusan.
Saking kerasnya, saya mengira anak saya pasti akan langsung menangis. Ternyata tidak.
Menyadari kesalahan tersebut, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut dan penuh penyesalan, saya bertanya, “Mau ayah gendong?”
Ya, tiba-tiba ada dorongan kuat untuk memeluknya karena saya sangat khawatir dia syok akibat bentakan tadi.
Namun dia menolak dan seketika berhenti merengek.
Saya lalu pergi ke belakang sebentar, kemudian kembali ke ruang tamu untuk mencoba memperbaiki gasingnya yang rusak.
Ternyata anak saya masih berdiri tegak di tempat saya membentaknya tadi, dan terdengar dia sedang berhitung perlahan.
Saya jadi teringat, saya memang pernah mengajarinya tentang konsep menunggu waktu dengan cara berhitung, semisal “Tunggu sebentar ya, hitung sampai seratus dulu.”
Hati saya terenyuh menyadari bahwa anak saya sebenarnya ketakutan dan salah tingkah.
Dia tidak tahu bagaimana merespons kemarahan ayahnya, sehingga dia memilih untuk berhitung sendirian.

Nasihat Agung: Jangan Marah dan Jadilah Orang Kuat
Saat seseorang sedang merasa tertekan, pertahanan dirinya melemah sehingga jadi lebih mudah marah.
Sungguh saya sangat menyesali kemarahan semacam ini. Itulah momen di mana saya benar-benar kehilangan jati diri.
Mari kita perhatikan apa kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang nasihat agung “jangan marah”.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Berilah aku wasiat”.
Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!”
Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang,
kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Engkau jangan marah!”. (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari)
Juga kita perhatikan apa kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang siapa sesungguhnya orang yang paling kuat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat,
tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Ternyata yang disebut orang paling kuat adalah orang yang bisa mengelola emosinya sehingga tidak mudah marah.
Sahabat, apakah Anda juga pernah mengalami hal serupa, sebuah lonjakan emosi sesaat terhadap orang tercinta yang kemudian berujung pada penyesalan mendalam?
Marah memang tabiat bawaan manusia.
Akan tetapi, kemarahan yang dilampiaskan karena menuruti hawa nafsu dan berpotensi menimbulkan kerusakan adalah marah yang wajib dihindari.
Sesuai pesan kedua hadits di atas:
#️⃣ Jika ada nasihat yang saking pentingnya sampai perlu diulang-ulang penyampaiannya, maka nasihat itu adalah “jangan marah”.
#️⃣ Kemudian, orang yang paling kuat adalah mereka yang paling mampu menguasai dirinya saat marah melanda.
Mari kita sama-sama memperbaiki diri agar tidak mudah marah karena hal sepele.
Cara Menahan Emosi agar Lebih Sabar
Di antara cara menahan emosi yang bisa dicoba adalah:
☑️ Meniru kakak saya, yakni menuliskan kalimat pengingat “Jangan Marah” di selembar kertas, lalu menempelkannya di tempat yang mudah terlihat.
Atau, seperti yang saya lakukan saat ini, yakni merenung dan menuliskannya ke dalam sebuah artikel blog.
☑️ Upaya spiritual lainnya adalah dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
☑️ Selain itu, kita juga terus membiasakan diri berdoa agar Allah menjadikan urusan dunia hanya berada di bawah telapak kaki, bukan bersarang di dalam hati dan pikiran.
Artinya, jangan sampai karena urusan duniawi yang fana, kita kehilangan akal sehat dan meluapkan amarah untuk perkara yang remeh.
Mari kita sama-sama berusaha menjadi lebih sabar.
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / SrdjanPav (Standard License)

Leave a Reply