Sahabat, pernahkah Anda melakukan perjalanan jauh, lalu tiba-tiba terdengar keluhan dari seorang anak kecil di sebelah Anda, entah itu buah hati, keponakan, sepupu, atau adik bungsu Anda?
⏰ “Kapan sampainya, sih?”
🚂 “Kok, kita ngga sampai-sampai?”
Sebagai orang dewasa yang mendampinginya, kita biasanya membalas dengan sabar, “Tunggu ya, sebentar lagi sampai.”
Namun, selembut apa pun kita membujuk, anak tersebut biasanya akan tetap resah dan gelisah di tempat duduknya.
Ternyata, di balik pertanyaan polos dan kegelisahan bocah tersebut, tersimpan sebuah hikmah besar bagi kita.
Keresahan mereka adalah cerminan paling jujur dari kegelisahan batin kita sendiri saat mengarungi luasnya kehidupan.
Mengapa anak kecil begitu mudah gelisah di perjalanan?
Jawabannya sederhana: karena mereka belum memiliki gambaran utuh tentang rute yang sedang mereka lewati.
Secara psikologis, seseorang (baik balita maupun orang dewasa) baru bisa menikmati sebuah perjalanan jika ia memegang 3 kunci utama:
- Tahu ke mana tujuan akhirnya. ✅
- Paham cara atau kendaraan untuk mencapainya. ✅
- Memiliki ekspektasi tentang rintangan yang pasti akan dihadapi di tengah jalan. ✅
Tanpa ketiga hal ini, perjalanan jauh akan terasa seperti siksaan yang membingungkan.
Mari kita bedah satu per satu, dan temukan bagaimana ketiga hal ini adalah peta rahasia untuk menemukan ketenangan hidup.
3 Syarat Mutlak agar Hati Tenang di Perjalanan
✅ 1. Tujuan: Kita Sedang Dibawa ke Mana?
Bayangkan Anda tiba-tiba diajak pergi oleh seorang teman.
Anda masuk ke dalam mobilnya, lalu melaju membelah kemacetan selama berjam-jam, tetapi teman Anda sama sekali tidak memberi tahu ke mana tujuannya.
Bisakah Anda duduk tenang? Pasti tidak.
Ketidaktahuan melahirkan kecemasan.
Jika sejak awal Anda tahu tujuannya jauh, Anda tentu akan menolak, atau setidaknya bersiap diri: makan yang kenyang atau ke toilet terlebih dahulu.
Tanpa tujuan yang jelas, setiap detik di jalan akan terasa melelahkan.
✅ 2. Cara: Bagaimana Tahapan Rutenya?
Anak balita belum memahami peta perjalanan. Saat kita berangkat dari Bekasi menuju rumah kerabat di Bogor, di kepala kita sudah tergambar jelas rutenya: naik kereta rel listrik, turun di stasiun, lalu lanjut memesan taksi online.
Namun di kepala anak kecil yang kita bawa, ketika kereta berhenti di stasiun, ia mengira perjalanan sudah selesai.
Saat tahu ia masih harus berpindah kendaraan menembus jalanan kota, ekspektasinya hancur.
Akibatnya, ia kembali bertanya dengan nada lelah,
🚀 “Kapan sampainyaa?”
✅ 3. Ekspektasi: Apa yang Menanti di Depan?
Dengan mengetahui rute dan menggunakan bantuan teknologi seperti Google Maps, kita bisa mengetahui secara pasti titik kemacetannya.
Orang yang nekat berlibur ke kawasan Puncak di malam Tahun Baru tanpa tahu medannya, pasti akan stres berat dan gelisah saat kendaraannya terjebak berjam-jam.
Sebaliknya, orang yang sudah tahu dan siap akan kemacetan tersebut, mentalnya jauh lebih stabil.
Ia sudah mengisi perut, membawa bekal, dan menyiapkan hal-hal menyenangkan untuk dinikmati di perjalanan.
Malah ada juga orang yang menganggap kemacetan itu sebagai hal yang bisa dinikmati, coba lihat judul berita di gambar di bawah ini: “Cerita Warga Jakarta Rela Macet-macetan di Puncak Bogor: Itu Seninya”,

Ekspektasi yang tepat akan mengubah rintangan menjadi sesuatu yang bisa ditoleransi.

Kehidupan di Dunia Adalah Perjalanan Jarak Jauh
Sahabat, bicara tentang perjalanan, bukankah hakikat kehidupan di dunia ini sejatinya adalah rute yang panjang?
Sebuah perjalanan yang titik berangkatnya dimulai saat kita lahir, dan titik akhirnya berada di gerbang kematian.
Layaknya perjalanan jarak jauh, kehidupan kita akan terasa menyesakkan, penuh komplain, dan menggelisahkan jika kita kehilangan arah.
Kita akan terus merasa lelah jika kita:
- Tidak tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita diciptakan. ☑️
- Tidak tahu aturan melangkah yang benar. ☑️
- Tidak punya ekspektasi bahwa dunia ini adalah tempatnya ujian. ☑️
3 Kunci Ketenangan Batin sebagai Hamba Allah
☑️ 1. Menemukan Titik Tujuan Tertinggi
Ke mana sebenarnya kendaraan hidup ini sedang melaju?
Sebagai seorang hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kompas kita seharusnya terkalibrasi pada satu titik akhir yang dijanjikan dalam Surah Yunus ayat 26:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik (ada pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).
Wajah-wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula diliputi) kehinaan.
Mereka itulah para penghuni surga.
Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Qur’an Surah Yunus ayat 26)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “tambahannya” dalam ayat ini adalah anugerah terbesar: memandang Wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda bahwa ketika hijab di surga disingkap, “Demi Allah, tidak ada sesuatu dari karunia Allah yang lebih mereka cintai daripada dapat memandang wajah-Nya…”
Itu adalah kenikmatan tertinggi di surga!
Telah diriwayatkan banyak hadits dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
di antaranya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Shuhaib Radhiyallahu ‘Anhu
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah membaca ayat ini,
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.”
Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Apabila penduduk Surga telah memasuki Surga,
dan penduduk Neraka pun telah memasuki Neraka,
maka ada penyeru yang menyeru:
‘Wahai penduduk Surga, sesungguhnya Allah memiliki janji kepada kalian yang hendak Dia laksanakan.’
Mereka bertanya: ‘Janji apa itu?
Bukankah Dia telah memberatkan timbangan kami,
memutihkan wajah-wajah kami
dan memasukkan kami ke dalam Surga
serta menyelamatkan kami dari Neraka?’”
Beliau bersabda:
“Lalu dibukakan untuk mereka penghalang/hijab, maka mereka pun memandang-Nya.
Demi Allah, tidak ada sesuatu dari karunia Allah yang lebih mereka cintai daripada dapat memandang wajah-Nya
dan tidak ada yang lebih menyenangkan hati mereka darinya.”
Itulah tujuan akhir kita. Bukan sekadar mengumpulkan harta, melainkan pulang untuk menatap Wajah Pencipta kita.
☑️ 2. Memegang Peta Jalan (Cara Mencapai Tujuan)
Jika tujuannya sudah jelas, kendaraan apa yang harus kita pakai?
Al-Qur’an memberikan peta jalan yang sangat terang. Tujuan hidup kita adalah ketaatan:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Al-Qur’an Surah Az-Zariyat ayat 56)
Ibadah adalah kendaraan kita.
Setiap sujud, setiap kebaikan kecil, setiap peluh yang menetes untuk mencari rezeki dengan cara halal, adalah bahan bakar yang mendekatkan kita ke garis finis.
Baca Juga: Hidup Terasa Berat? Kunci Pertolongan di Surah Nuh 10-12
☑️ 3. Membangun Ekspektasi (Bersiap Menghadapi Ujian)
Di rute kehidupan, “kemacetan” itu bernama ujian.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah memberikan rambu-rambu peringatan sejak awal:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut ayat 2)
Dengan memahami rambu ini, kita tidak akan kaget saat musibah datang.
Kita sudah punya ekspektasi bahwa dunia memang bukan tempat bersantai, melainkan tempat berjuang.
Namun, di tengah ujian itu, Allah telah menyisipkan tempat istirahat berupa jaminan pertolongan yang pasti bagi mereka yang terus berjalan di atas rute ketakwaan:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya
dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (Al-Qur’an Surah At-Talaq ayat 2-3)
Baca Juga: Review: Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah
Menikmati Perjalanan hingga Tiba Waktunya Pulang
Memahami tujuan, cara meraihnya, dan ekspektasi rintangan di jalan adalah kunci utama ketenangan batin.
Kehidupan di dunia ini hanyalah jembatan penyeberangan.
Jangan jadikan ia sebagai tempat tinggal abadi di dalam hatimu.
Jika hari ini Anda merasa lelah, gelisah, dan ingin mengeluh “Kapan sampainya?”, berhentilah sejenak.
Tarik napas panjang.
Ingatlah kembali ke mana Anda sedang menuju.
Rapikan niat, kencangkan sabuk pengaman keimanan, dan percayalah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tak akan pernah membiarkan hamba-Nya tersesat jika ia mau terus mengikuti petunjuk-Nya.
Mari kita senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita semua selamat sampai tujuan akhir yang paling indah.
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / Nyon (Standard License)

Leave a Reply