Review: Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah

Sahabat, apakah Anda sedang merasa lemah, lelah, khawatir, takut, berada di titik jenuh, atau seakan dunia ini sedang runtuh?

Jika demikian, tulisan ini hadir sebagai penyemangat untuk terus bangkit!

Dalam kesempatan kali ini, saya menyajikan ulasan atau resensi dari sebuah buku yang setiap halamannya terasa amat penting dan bermakna, sehingga sukses menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam hidup saya.

Jika saya harus menandai dengan marker atau stabilo pada bagian mana saja dari buku ini yang penting bagi saya, niscaya buku ini akan penuh dengan coretan tanda!

Buku luar biasa tersebut berjudul:

Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah (ditulis oleh Muhamad Yasir, Lc.)

Sekilas tentang Penulis dan Isi Buku

Muhamad Yasir, Lc., lahir di Bungintimbe, Sulawesi Tengah, pada 8 Mei 1976.

Beliau adalah lulusan Imam Muhammad Ibnu Sa’ud University, LIPIA Jakarta, dan pernah meraih tiga kali penghargaan Islamic Book Fair Awards.

Saat ini, beliau telah menulis puluhan buku anak dan dewasa, salah satunya adalah buku yang sedang kita bahas ini.

Buku yang saya miliki ini diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama keluaran Januari 2023.

Gambaran utama mengenai isi buku ini sudah tertulis dengan jelas pada halaman sampul depan:

Sampul buku Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah
Sampul buku Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah

“Buku ini berisi riwayat shahih yang mempesona dari para nabi, sahabat, ulama salaf, orang arif, badui yang merasakan keajaiban hidup karena mempraktikkan husnuzhan alias prasangka baik kepada Allah.

Dilengkapi quote pilihan, inspirasi, tadabbur dan nilai hidup yang istimewa”.

Kalimat pada sampul tersebut sudah cukup menggambarkan secara garis besar betapa berbobotnya isi buku ini.

Judulnya sendiri diambil dari sebuah hadits, yakni saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berpesan kepada mereka yang sakit keras agar tetap berprasangka baik kepada Allah.

Beliau menyampaikan pesan penting ini tiga hari sebelum beliau wafat:

“Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia, sebelum ia berprasangka baik kepada Allah.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Di dalam buku setebal 226 halaman ini, saya tidak menemukan halaman “Kata Pengantar”, “Pengantar Penerbit”, maupun halaman pembuka semisalnya.

Bisa jadi hal ini hanya terjadi pada cetakan perdana dan kelak akan ditambahkan, atau penulis serta penerbit buku memang sengaja melewatinya agar pembaca bisa langsung menyelami inti sari buku.

Daftar Pembahasan yang Menggugah

Untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh, kita bisa melihat halaman “Isi Buku” dan membaca judul-judul bab yang disajikan di dalamnya, yaitu:

  1. Dugalah Hanya yang Baik kepada Allah.
  2. Apa Itu Husnuzhan?
  3. Tempat-Tempat Berhusnuzhan
  4. Husnuzhan kepada Allah Akhlak para Nabi dan Rasul
  5. Husnuzhan Kebiasaan Kaum Salaf dan Pahlawan Islam
  6. Husnuzhan Kearifan Badui dan Orang Bijak
  7. Seputar Pesona Husnuzhan kepada Allah
  8. Berprasangka Baiklah karena Semua akan Menjadi Baik
  9. Allah Lebih Baik dari yang Engkau Duga
  10. Orang-Orang yang Berprasangka Buruk
  11. Su’uzhan Membunuh Setiap Keindahan
  12. Agar Pandai Berprasangka Baik kepada Allah
  13. Khatimah

4 Inspirasi Pilihan yang Menyentuh Hati

Sebagaimana saya tulis di awal, setiap halaman dari buku ini benar-benar bermakna, sampai-sampai saya cukup kesulitan menentukan bagian mana yang paling menggugah jiwa.

Sebagai rangkuman, saya pilihkan 4 inspirasi pilihan dari buku ini yang benar-benar menyentuh lubuk hati saya yang terdalam:

☑️ 1. Tak Minta Islam pun Diberi, Masakah Surga Tak Diberi?

(1) Seorang badui pernah berkata,

“Ya Allah, sungguh Engkau memberi Islam kepada kami padahal kami tidak pernah memintanya,

masa Surga Engkau tidak beri padahal setiap saat kami memintanya.”

Sang badui, yakni suku pengembara di Jazirah Arab, merasa tidak pernah meminta hidayah Islam.

Akan tetapi, Allah telah menganugerahkan hidayah tersebut kepadanya melalui perantara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Sahabat.

Karena alasan itulah dia menjadi sangat yakin, jika dia setiap saat meminta Surga kepada Allah, pastilah Allah akan memberikan Surga itu kepadanya.

Kalimat ini sungguh menggugah dan membuat saya bisa relate dengan doa sang badui.

Saya sendiri memperoleh anugerah hidayah Islam dari Allah melalui kedua orang tua saya, dengan kata lain saya telah berislam sejak lahir.

Allah telah memberikan anugerah itu meski dahulu saya tidak memintanya.

Maka, ketika saya memperbanyak meminta Surga kepada Allah berulang-ulang di setiap doa, saya harus senantiasa berprasangka baik bahwa Allah kelak akan memberikan Surga itu kepada saya.

☑️ 2. Bahagianya Wanita Berhijab: Tiap Detik Bernilai Ibadah

(2) Hijab adalah kekhususan bagi wanita. Tidak ada pada lelaki.

Setiap wanita berhijab, saat itu semua dihitung ibadah walaupun ia ke tempat-tempat wisata yang hukumnya mubah.

Karena itu pandailah berhusnuzhan, Allah akan mencatat semua waktu sebagai ibadah.

Tulisan ini menyadarkan saya bahwa pada dasarnya, ketika seorang wanita meniatkan “memakai hijab” sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, maka selama ia memakainya, dia sebenarnya sedang terus-menerus beribadah.

Layaknya orang yang sedang berpuasa; sepanjang hari dia menahan diri, sepanjang itu pula dia dihitung sedang beribadah.

☑️ 3. Tempat Teraman Bukan di Tangan Manusia, Tapi Allah

(3) Saat ibu Musa ketakutan akan bayinya, Allah berkata kepadanya, “Jika engkau takut, maka letakkan bayi itu di sungai.”

Pertanyaannya, mengapa tidak dalam dekapan ibunya karena itu jauh lebih aman untuk bayi dan ibunya?

Jawabannya, karena Allah ingin memperlihatkan perlindungan itu secara total bersumber dari-Nya, tanpa melibatkan siapa-siapa.

Tulisan ini menjadi pengingat kuat bagi saya bahwa pemberi keamanan sejati hanyalah Allah.

Secara logika manusia, bayi yang lemah jelas jauh lebih aman berada di dekapan ibunya ketimbang diletakkan di atas sungai.

Namun, dalam Surah Al-Qasas ayat 7, Allah justru memerintahkan ibunda Nabi Musa untuk menghanyutkan putranya agar Allah bisa menunjukkan perlindungan mutlak-Nya.

Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa).

Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung).

Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih.

Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.” (Al-Qur’an Surah Al-Qasas ayat 7)

☑️ 4. Musibah Pasti Berlalu, Bukan Barangkali. Yakinlah!

(4) Imam Ahmad bin Hanbal berhusnuzhan bahwa musibahnya segera diangkat.

Suatu hari, saudaranya yang bernama Abu Abdullah bin Hanbal menulis surat kepadanya agar bersabar melewati hari-hari ia menghadapi musibah, Wahai Ahmad, kesabaran menghapus bencana, barangkali ia segera terangkat.

Namun keimanan Imam Ahmad tidak bisa menerima persangkaan yang terkandung dalam kata BARANGKALI.

Karena itu, Imam Ahmad menjawabnya, telah kau sabarkan diriku dengan nasihatmu dan musibah ini PASTILAH akan pergi.

Imam Ahmad tidak menerima kata “barangkali”, lalu menggantinya dengan “pasti”, semata-mata karena besarnya prasangka baik beliau terhadap Allah.

Beliau sangat yakin Allah “pasti” akan segera mengangkat musibah tersebut.

Bagaimana Sahabat, sangat inspiratif bukan?

Saya sangat bersyukur telah menemukan buku ini karena isinya sukses mengingatkan saya untuk terus berprasangka baik kepada Allah dalam segala situasi.

Sebagai penutup, mari kita senantiasa berprasangka baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: Pixabay.com / NickyPe

2 thoughts on “Review: Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah”

  1. Mau pinjam buku ini ah di perpustakaan.
    Ini semacam jawaban dari kelakuan saya subuh tadi, entah karena PMS saya merasa kok sedikit marah ke Allah, astagfirullah.
    Padahal saya yakin apapun yang Allah berikan adalah baik untuk kita

    Reply
    • Ini bukunya recommended Mb Rey.

      Saya anggap sebagai salah satu buku yang life-changing buat diri saya.

      Setelah membaca ini saya jadi mengevaluasi beberapa pemikiran dan perkataan saya yang negatif — terutama kalau saya lagi ngerasa lelah dan kewalahan.

      Saya ingin belajar selalu berprasangka baik kepada Allah.

      Reply

Leave a Comment