Sama Baiknya di Luar & di Rumah: Ujian Karakter yang Nyata

Banyak orang bersinar di luar, tapi redup di rumah sendiri. Simak kisah inspiratif tentang pentingnya menjadi orang yang sama baiknya bagi keluarga.

Sama Baiknya di Luar & di Rumah: Ujian Karakter yang Nyata

Sahabat, ada sebuah artikel yang sangat menggugah dari Becoming Minimalist, salah satu blog favorit saya yang sarat dengan tulisan bermutu.

Artikel tersebut berjudul “Pujian yang Paling Saya Inginkan di Hari Pemakaman Saya”.

Sang penulis, Joshua Becker, menceritakan tentang kakeknya yang merupakan seorang pemuka agama.

Sang kakek wafat pada usia 99 tahun.

Di hari pemakamannya, anak perempuan beliau (yang juga merupakan ibunda Joshua) menyampaikan sebuah testimoni yang mendalam kepada para hadirin:

“Saya ingin kalian semua tahu bahwa ayah saya adalah orang yang sama ketika dia berada di rumah maupun ketika berada di publik (di depan umum/jamaahnya).”

Mendengar hal itu, Joshua menuliskan sebuah perenungan.

Jika suatu saat dia meninggal nanti, tentu ada banyak testimoni yang dia harapkan keluar dari lisan orang-orang.

Entah itu pujian bahwa dia adalah sosok yang alim, baik hati, ramah, dan berbagai sifat terpuji lainnya.

Akan tetapi, ada satu pujian yang dia anggap jauh lebih bernilai dibandingkan itu semua, yaitu: “Dia adalah orang yang sama di rumah maupun di publik” (He was the same person at home as he was in public).

Apakah Cahaya Kita Sampai ke Dalam Rumah?

Idealnya, orang yang dikenal baik di luar rumah, perilakunya juga sama baiknya ketika berada di dalam rumah.

Tetapi kenyataannya, hal tersebut tidak selalu terjadi, bukan?

Ada kalanya seseorang bekerja begitu keras hanya demi membangun citra baik di mata publik.

Hal ini sangat bisa dilakukan karena memalsukan sebuah citra di depan orang banyak bukanlah sebuah kemustahilan.

Akan tetapi, ketika orang tersebut pulang ke rumah dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekatnya, warna asli dari karakter dirinya perlahan pasti akan terlihat.

Pertanyaannya, betapa banyak orang yang bersinar terang menyinari orang-orang di luar sana, tetapi cahayanya justru sama sekali tidak pernah hadir di rumahnya sendiri?

Menjadi Sebaik-baik Pribadi bagi Keluarga

Testimoni “Dia adalah orang yang sama di rumah maupun di publik” memiliki makna yang amat dalam.

Hal itu membuktikan bahwa dia benar-benar menjalankan karakter aslinya yang baik di seluruh relung kehidupannya tanpa ada yang ditutupi atau dibuat-buat.

Hal ini sangat selaras dengan tuntunan agama kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya.

Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah)

Sahabat, mari kita terus bermuhasabah dan memohon pertolongan kepada Allah agar kita dimampukan menjadi pribadi yang tulus, teguh menjaga kebaikan karakter kita di mana pun kita berada, teristimewa saat pintu rumah telah tertutup dari pandangan dunia.

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: Pixabay.com / StockSnap


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

6 responses to “Sama Baiknya di Luar & di Rumah: Ujian Karakter yang Nyata”

  1. Rezky Pratama Budi Kusuma Avatar

    inginnya di luar itu baik dan di dalam rumah itu baik juga
    tapi apa daya kita hanya manusia biasa
    tidak bisa menyenangkan semua orang

    1. Mohamad Iqbal Akhirudin Avatar

      Saya melihat hikmah dalam cerita ini bukan tentang menjadi orang yang menyenangkan semua orang, melainkan tentang orang yang menjadi diri sendiri. Tanpa pencitraan-pencitraan.

  2. Bondan Blog Avatar

    Kadang seseorang baik di luar rumah, saking baiknya orang yang didalam rumah mengatakan.”Jadi orang jangan terlalu baik.”

    1. Mohamad Iqbal Akhirudin Avatar

      Sepertinya karena khawatir kebaikan hati orang yang terlalu baik akan dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

  3. Lina Avatar

    Membaca ini membuat saya sadar kenapa saya sangat menyukai konsep tasawuf (yang masih saya pahami hanya sebagian kecil). Tasawuf yang saya pahami adalah disiplin batin yang menuntut kejujuran total pada diri sendiri: menolak keterbelahan antara wajah yang ditampilkan di ruang publik dan wajah yang hidup dalam ranah paling pribadi. Ia memaksa seseorang untuk hidup tanpa topeng, tanpa rekayasa citra, sehingga diri yang berdiri di hadapan manusia, dikenal keluarga, dan diri yang hanya disaksikan oleh kesadaran sendiri benar-benar satu, utuh, dan tidak terpecah. Akhirnya rekayasa citra itu — baik yang disengaja maupun yang tidak — bagi kalangan sufi bukan hanya dosa sosial, melainkan kerusakan batin yang harus diperbaiki terus-menerus seumur hidupnya, sampai ke akarnya.

  4. fanny Nila - dcatqueen.com Avatar

    jujur jadi agak tertampar :D… krn aku sendiri memang beda di luar dan di rumah… di rumah cendrung diam, cendrung ga sabar, tapi saat ketemu teman yg se klik di luar, langsung rame..

    ga bagus sih memang yg begitu… tapi susah memang untuk mengubah karakter..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading