Merinding Ingat Mati? Pengingat agar Tak Terlena Dunia

Pernah gemetar takut mati? Saya mengalaminya di kereta. Rasa takut itu ternyata bentuk kasih sayang Allah agar kita tidak tertipu oleh gemerlap dunia.

Merinding Ingat Mati? Pengingat agar Tak Terlena Dunia

Sahabat, perjalanan hidup sering kali memberikan teguran spiritual di saat yang tidak terduga.

Sebuah momen sederhana dalam rutinitas harian bisa berubah menjadi pengingat yang sangat kuat tentang kematian.

Pengalaman seakan merasakan sakaratul maut ini benar-benar terjadi pada saya di tengah sebuah perjalanan.

Niat Menunda Ibadah Sejenak karena Keraguan Fasilitas Kereta

Suatu ketika menjelang waktu maghrib, saya menaiki kereta api Jayabaya dari Stasiun Bekasi. Tujuan perjalanan saya saat itu adalah menjemput istri dan anak yang sedang mudik.

Tidak lama setelah saya duduk nyaman di kursi penumpang, waktu maghrib pun tiba.

Awalnya, terlintas pemikiran di benak saya untuk menunda ibadah sholat sejenak.

Terlebih lagi, saya belum sempat mengecek apakah gerbong restorasi di kereta api Jayabaya ini menyediakan fasilitas mushola atau tidak, ditambah lagi saya berpikir bahwa toilet kereta biasanya sedang penuh-penuhnya pada jam tersebut.

Saya lalu mengambil handphone untuk mendengarkan rekaman ceramah dari salah satu ustaz favorit yang sudah saya download sebelumnya.

Suasana senja itu terasa begitu syahdu, sampai akhirnya sebuah kejadian tak terduga menghampiri kesadaran saya.

Merinding Hebat: Menyaksikan Diri Berpaling Saat Sakaratul Maut

Lagi fokus menyimak ceramah tersebut, ada sebuah kalimat tentang kematian yang seketika membuat saya seakan terlempar dari dunia nyata.

Dalam sekejap, terbayang dengan sangat jelas bahwa saya sedang berada di akhir tarikan napas alias sedang menghadapi detik-detik kematian. Sebuah momen sakaratul maut!

Dalam bayangan tersebut, saya merasa terjebak di dalam suasana berlatar abu-abu yang teramat sunyi.

Hal yang paling membuat saya merinding ketakutan adalah, pada detik-detik lepasnya nyawa dari raga tersebut, saya melihat diri saya justru berpaling dari keimanan.

Saya menjadi sangat panik luar biasa.

Saya menyadari sepenuhnya, apabila hal itu benar-benar terjadi, hancurlah nasib saya di akhirat kelak.

Tersadar dengan Napas Tersengal: Pokoknya Harus Sholat Sekarang!

Kesadaran saya kemudian ditarik kembali ke dunia nyata.

Dada saya terasa agak sesak, persis seperti orang yang sedang megap-megap karena hampir tenggelam di dalam air.

Setelah itu, saya merasakan hawa kedinginan yang aneh menjalar di area kaki.

Saya bergegas melihat jam di layar handphone, waktu maghrib memang sudah masuk.

Niat awal yang ingin menunda sholat langsung sirna tak berbekas.

Didorong oleh suasana hati yang panik dan ketakutan yang mencekam, saya pergi mencari toilet yang kosong untuk berwudhu.

Saya bertekad kuat di dalam hati, pokoknya saya harus mendirikan sholat maghrib sekarang juga!

Tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung melaksanakan sholat maghrib di area depan pintu masuk gerbong, tepatnya di depan deretan mesin dan bukan di area toilet.

Mengingat kereta sedang melaju pesat, area pintu tersebut dipastikan aman dari orang yang lalu-lalang.

Doa Tak Terduga untuk Sang Penindas di Tengah Rasa Ngeri

Sebagai gambaran betapa terguncangnya perasaan saya saat itu, secara tidak terduga dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mendoakan dengan tulus seseorang yang kezalimannya tengah diberitakan di berbagai media seluruh dunia.

Saya mendoakan agar apa pun kekejian yang telah dilakukannya pada masa lalu maupun sedang dilakukannya saat ini, dia bisa segera sadar dan bertaubat selagi masih diberikan napas kehidupan.

Saya berdoa demikian karena saya sama sekali tidak bisa membayangkan akan ada manusia yang sanggup menanggung penderitaan batin seperti yang baru saja saya rasakan selama beberapa detik tersebut, apalagi jika harus mengalaminya dalam versi yang nyata.

Selama beberapa hari setelah peristiwa mencekam tersebut berlalu, saya masih merasa tidak enak badan akibat sisa kengerian yang membekas kuat di jiwa.

Asam lambung saya bahkan ikut naik merespons stres dan ketakutan tersebut.

Kengerian itu sungguh terasa sangat nyata selama berhari-hari.

Dari kejadian ini, saya jadi banyak berpikir: alangkah baiknya jika sesekali setiap orang menyisihkan waktu sejenak untuk mengingat bahwa kita semua pasti akan mati.

Semua manusia tanpa terkecuali pasti akan mati, kita hanya sedang berada dalam antrean menunggu waktunya saja.

Saya juga memikirkan orang-orang yang saat ini merasa sedang berada di atas angin dan berbuat zalim sesuka hati.

Pastilah mereka berada dalam kebodohan yang nyata, atau mereka sedang tertipu daya karena mengira tidak akan dibangkitkan kembali untuk diadili setelah mati.

Mereka pastilah sedang lupa atau sengaja berpura-pura tidak ingat bahwa kehidupan di dunia ini sangatlah sebentar. Sangat sebentar.

Sebagai penutup pengingat diri ini, mari kita renungkan bersama firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.

Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.

Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Al-Qur’an Surah Ali-Imran ayat 185)

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: iStock.com / borchee (Standard License)


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading