Sahabat, kita saat ini hidup di era emas teknologi.
Segala kemudahan, terutama dengan hadirnya Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI), telah membuat banyak urusan dan pekerjaan menjadi jauh lebih praktis dan instan.
Namun, di balik segala kenyamanan tersebut, terdapat sebuah ujian yang nyata.
Kemudahan yang berlimpah ini sangat berpotensi membuai kita menjadi malas bergerak, enggan berpikir kritis, dan pada akhirnya menurunkan kapasitas diri kita menjadi pribadi yang lemah.
Padahal, kekuatan akal maupun fisik hanya bisa dijaga dan ditingkatkan melalui latihan yang konsisten.
Mari kita buktikan prinsip penting ini melalui kejadian-kejadian sederhana yang sangat membuka mata.
Berlatih Berjalan Mempercepat Pemulihan
Dalam sebuah acara di Yogyakarta, saya bertemu dengan seorang teman yang berjalan menggunakan tongkat.
Ia baru saja mengalami kecelakaan, sebuah kabar yang saya ketahui dari status Facebook miliknya.
Saya pun bertanya tentang kondisi kakinya saat itu.
Ia menjelaskan bahwa tendon kakinya mengalami cedera yang cukup serius.
Ketika saya bertanya mengapa ia tidak beristirahat total di rumah saja, jawabannya sungguh membuka wawasan: dokter justru mewajibkannya untuk terus berlatih berjalan guna mempercepat proses pemulihan.
Terlalu Lama Istirahat Justru Menghambat Penyembuhan
Pengalaman serupa pernah terjadi pada ayah saya saat beliau terkena serangan stroke dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya penggumpalan darah di bagian otak.
Setelah melewati masa kritis dan menginap satu malam di ruang ICU, keesokan harinya ayah saya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Saat itu, logika saya mengatakan bahwa ayah harus beristirahat secara penuh dan tidak boleh banyak bergerak selama beberapa hari di kasur rumah sakit.
Ternyata dugaan saya sepenuhnya keliru!
Seorang perawat yang masuk untuk mengontrol kondisi ayah langsung bertanya apakah ayah sudah mulai berlatih berjalan. Saya menjawab belum.
Sang perawat dengan tegas mengingatkan bahwa ayah saya harus segera belajar berjalan dan menggerakkan anggota badannya.
Alasannya sangat logis: beristirahat terlalu lama justru akan menghambat proses penyembuhan saraf dan otot.
Prinsip yang sama juga berlaku ketika ibu saya dirawat pascaoperasi.
Secara perlahan namun pasti, ibu saya diwajibkan untuk berlatih memiringkan badan, berlatih duduk, hingga akhirnya berlatih berjalan kembali.
Meskipun terasa sangat sakit dan sangat nyeri pada awalnya, semua tahapan itu wajib dilalui agar tubuh cepat pulih.
Tubuh manusia diciptakan untuk aktif. Membiarkannya terlalu lama berdiam diri justru merusak sistem pemulihan alami yang telah Allah ciptakan.
Terus Bergerak dan Berlatih agar Kapasitas Tidak Menurun
Fakta medis tersebut membuktikan bahwa untuk menjadi kuat, tubuh manusia mutlak membutuhkan porsi gerak yang cukup.
Hukum ini tidak hanya berlaku untuk fisik, tetapi juga mencakup dimensi nonfisik.
Ketika seorang manusia berhenti melatih potensi dirinya, berhenti bergerak, dan berhenti belajar, kapasitasnya pasti akan melemah.
Seseorang yang meninggalkan kebiasaan membaca akan mendapati kemampuan literasinya menurun drastis.
Seorang penghafal Al-Qur’an yang memiliki hafalan puluhan juz pun, jika ia meninggalkan rutinitas muroja’ah atau mengulang hafalannya, maka hafalannya pasti memudar dan hilang.
Hafalan Al-Qur’an tidak menetap secara permanen di dalam kepala begitu saja. Konsistensi mengulang hafalan adalah kunci utama menjaganya.
“Hafalkanlah (dan rutinkanlah) membaca Al-Qur’an.
Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
Al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang lepas dari ikatannya.†(Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Baca Juga: Pengalaman Belajar Islam Online di HSI AbdullahRoy
Hal yang sama berlaku pada penguasaan bahasa.
Jika Anda pernah menguasai bahasa asing lalu membiarkannya terbengkalai, ketajaman bahasa tersebut pasti akan terkikis oleh waktu.
Saya secara pribadi terbiasa mengonsumsi bacaan berbahasa Inggris setiap hari, mulai dari artikel berita, tulisan blog, hingga jurnal ilmiah.
Namun, saya jarang menggunakan bahasa tersebut untuk percakapan lisan.
Ketimpangan praktik ini terlihat sangat jelas ketika saya mengikuti ujian IELTS beberapa waktu lalu. Inilah hasil yang saya peroleh:

Terlihat bahwa komponen kemampuan membaca (reading) saya berhasil meraih angka 9.0, sebuah skor tertinggi yang bisa diraih.
Karena rutinitas membaca yang konsisten, saya tidak menemukan kesulitan berarti di bagian ini.
Sebaliknya, komponen kemampuan berbicara (speaking) saya berada di angka 6.0. Angka ini menjadi indikator tegas bahwa saya harus lebih banyak melatih lisan saya.
Ini adalah konsekuensi logis dari jarangnya saya berlatih berbicara dalam bahasa Inggris di keseharian.
Cara satu-satunya untuk meningkatkan keahlian adalah dengan terus mempraktikkannya.
Tidak ada jalan pintas yang bisa menggantikan proses latihan.
Baca Juga: Pengalaman Tes IELTS British Council: Tips Pejuang Beasiswa
Mukmin yang Kuat Lebih Dicintai oleh Allah
Sahabat, jarang berlatih, jarang membaca, jarang menulis, jarang mengulang hafalan, dan jarang bergerak adalah bibit utama yang menyebabkan potensi diri kita menyusut.
Padahal, syariat Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang tangguh.
Seorang mukmin yang kuat secara fisik, mental, dan spiritual jauh lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.
Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan.
Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu.
Minta tolonglah pada Allah,
jangan engkau lemah.†(Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)
Mari kita renungkan analogi sederhana ini. Saat masih kecil, kita belajar konsep dasar matematika: penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Ketika beranjak dewasa, kita sering menggunakan kalkulator untuk menghitung total belanjaan di minimarket demi memastikan anggarannya pas.
Kita menggunakan kalkulator hanya sebagai alat bantu yang mempercepat urusan, karena otak kita sudah lebih dulu menguasai konsep dasar perhitungannya.
Namun bayangkan, bagaimana jadinya jika sejak kecil seseorang tidak pernah diajari konsep angka, melainkan langsung disodori kalkulator?
Ia hanya akan memencet tombol tanpa pernah memahami dari mana angka tersebut berasal.
Kapasitas otaknya pun tidak akan pernah terlatih untuk berpikir kritis.
Analogi ini sangat relevan di era pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) saat ini.
Kita bebas memanfaatkan AI untuk menunjang efisiensi pekerjaan kita.
Namun, kita wajib menjaga kesadaran penuh agar tidak jatuh ke dalam jurang kemalasan akibat terlalu mengandalkan teknologi canggih tersebut.
Kecerdasan buatan diciptakan murni sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti akal budi dan ikhtiar manusia.
Kita harus terus waspada. Jangan sampai teknologi justru merampas kebiasaan kita untuk berpikir tajam dan bergerak aktif, yang pada akhirnya hanya akan membuat diri kita menjadi pribadi yang lemah.
Baca Juga: Hidup Adalah Perjalanan: 3 Kunci Hati Tenang & Tak Tersesat
Mari kita teguhkan komitmen untuk terus melatih diri dan berikhtiar secara maksimal.
Kita berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah agar seluruh upaya yang kita lakukan membawa manfaat besar di dunia dan di akhirat kelak.
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / Baramyou0708 (Standard License)