Tak Berdaya Tanpa Allah: Hikmah Doa “Walau Sekejap Mata”

Harapan indah mengisi Ramadhan, namun Allah berkehendak lain. Hikmahnya? Kami sadar tak mampu mengurus diri sendiri meski sekejap mata tanpa-Nya.

Tak Berdaya Tanpa Allah: Hikmah Doa “Walau Sekejap Mata”

Sahabat, terkadang kita merasa begitu kewalahan dan seakan tidak sanggup menyelesaikan berbagai urusan yang membentang di hadapan.

Terkadang muncul juga perasaan tidak mampu berjuang mewujudkan harapan demi kehidupan yang lebih baik.

Sepanjang tahun 2024, yakni saat saya menulis artikel ini, saya dan istri memiliki rentetan urusan serta cita-cita yang ingin kami upayakan.

Mulai dari menulis buku teks sekolah, melunasi cicilan bulanan rumah, mengikuti tahapan seleksi beasiswa LPDP, hingga berbagai tantangan lain yang sedang maupun akan kami hadapi.

Kondisi itulah yang membuat kami merasa semakin sangat membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dapat melalui semuanya dengan mudah dan dihindarkan dari keburukan-keburukan yang kami takutkan.

Maka, ketika bulan Ramadhan 1445 Hijriah/2024 tiba, kami menyambutnya dengan antusiasme yang luar biasa.

Kami sangat bersemangat karena meyakini bahwa Ramadhan adalah momen paling krusial untuk memperbanyak istighfar dan memanjatkan doa.

Kami ingin memperbanyak permohonan ampun agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggugurkan segala dosa kami.

Kami juga tiada henti memohon agar Dia senantiasa memberikan kemudahan dalam menjalankan setiap urusan di dunia ini.

Selain itu, kami bertekad menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik dengan meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah.

Oleh karena itu, saya dan istri menyusun resolusi Ramadhan.

Beberapa rencana ibadah yang ingin kami rutinkan antara lain adalah memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperbaiki hafalan surah, rutin mendatangi kajian Islam di masjid, serta melaksanakan iktikaf pada sepuluh malam terakhir bersama keluarga di masjid dekat rumah.

Dengan tekad bulat tersebut, kami melangkah mantap memasuki bulan suci.

Semangat Belajar Puasa Ramadhan

Pada hari pertama Ramadhan, kami mengajak anak kami yang masih duduk di bangku TK untuk ikut bangun sahur.

Niat awalnya murni hanya untuk memperkenalkannya pada suasana syahdu bulan puasa.

Saya membayangkan dia hanya akan sanggup berpuasa setengah hari, lalu melanjutkannya lagi setelah makan siang.

Sama sekali tidak ada rencana untuk memaksanya berpuasa penuh dari subuh hingga maghrib.

Namun, kejutan terjadi.

Anak kami menolak untuk berbuka di tengah hari dan bersikeras ingin melanjutkannya sampai azan maghrib berkumandang.

Saya dan istri berdiskusi singkat dan sepakat untuk membiarkannya.

Kami membebaskannya untuk membatalkan puasa kapan pun dia mau.

Nyatanya, anak kami benar-benar berhasil berpuasa penuh sampai maghrib.

Meskipun disuruh berbuka pada siang hari, dia tetap menolak.

Hal menakjubkan ini berlanjut pada keesokan harinya.

Dia menjadi sangat bersemangat untuk terus berpuasa.

Sekalipun dia sesekali sulit dibangunkan saat sahur, dia akan sarapan pagi seperti biasa lalu melanjutkan puasanya hingga maghrib.

Mendadak Sakit di Pertengahan Ramadhan

Hari demi hari berlalu dan semuanya tampak berjalan lancar.

Sampai akhirnya kami tiba di pertengahan bulan Ramadhan.

Pada hari itu, pikiran saya agak cemas karena menunggu pengumuman hasil tes bakat skolastik beasiswa LPDP.

Pengumuman penting tersebut bisa dirilis kapan saja, mulai dari pagi hingga larut malam.

Saat sedang berada di tempat kerja, saya menerima pesan dari istri yang mengabarkan bahwa anak kami sedang demam.

Sebenarnya gejala batuk sudah terlihat sejak malam sebelumnya, sehingga pada hari itu dia sengaja tidak kami bangunkan sahur dan puasanya diliburkan sementara.

Sore harinya, saat dalam perjalanan pulang kerja, saya merasa sangat ingin cepat sampai di rumah.

Tubuh saya terasa kehilangan energi akibat kelelahan mental menunggu pengumuman LPDP yang belum juga muncul.

Saya ingin segera memberi tahu istri bahwa hari itu adalah hari penentuan yang sudah lama kami tunggu.

Terlebih lagi, saya ingin segera memeluk anak saya dan mengecek kondisi kesehatannya.

Setibanya di rumah, saya mendapati anak saya masih terbaring lemas karena demam.

Saya dan istri berdiskusi cepat mengenai rencana membawanya ke dokter, sembari membuka aplikasi Halodoc untuk memesan obat penurun panas karena stok kami ternyata sudah habis.

Tiba-tiba, anak kami yang sedang tertidur mendadak kejang-kejang!

Kami menjadi sangat panik luar biasa.

Istri saya langsung mendekap anak kami sambil menangis.

Secara spontan, saya segera membuka kaos yang sedang saya pakai, berlari ke dapur untuk membasahinya dengan air keran di wastafel, lalu bergegas mengompres kening anak kami.

Tidak lama berselang, kejang-kejangnya berhenti.

Dengan sekujur tubuh yang masih gemetar, kami segera memesan taksi online untuk membawa anak kami ke IGD rumah sakit terdekat.

Di sepanjang perjalanan, mulut kami tidak henti-hentinya melafalkan istighfar.

Astaghfirullah… astaghfirullah…

Seiring berjalannya hidup kami di dunia ini, terasa tantangan yang semakin bertambah. Beberapa hal di masa depan membuat kami khawatir. Sehingga kami merasa semakin membutuhkan pertolongan Allah agar dapat melaluinya dengan mudah dan dihindarkan dari keburukan-keburukan yang kami takutkan.
Image: iStock.com / vladartdesign (Standard License)

Ramadhan di Rumah Sakit

Singkat cerita, malam itu anak kami harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

Karena seluruh kamar perawatan terpantau penuh, kami terpaksa bermalam di ruang IGD.

Bersamaan dengan situasi yang menegangkan tersebut, notifikasi pengumuman hasil tes bakat skolastik LPDP mendadak muncul di layar handphone.

Hasilnya, saya dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya!

Saya pun langsung membisikkan kabar tersebut kepada istri.

Ini sungguh sebuah ironi situasi yang sama sekali tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Saya menyampaikan sebuah kabar gembira ini di IGD rumah sakit.

Padahal pada hari-hari sebelumnya, saya selalu berimajinasi akan membaca pengumuman kelulusan tersebut sembari bersantai menikmati secangkir kopi sepulang dari sholat tarawih.

Alhamdulillah, keesokan harinya kami mendapatkan kamar perawatan yang nyaman.

Kamar tersebut dilengkapi jendela besar yang menghadap ke luar, sehingga kami bisa melihat keramaian suasana sore hari di bulan Ramadhan saat orang-orang sedang asyik ngabuburit.

Gambar Anak dirawat, diopname, di Rumah Sakit Hermina Galaxy Bekasi.

Resolusi Ramadhan yang Tidak Mudah Dilaksanakan

Anak kami harus dirawat selama beberapa hari ke depan.

Kondisi ini membuat saya dan istri harus melakukan sahur, berpuasa, mendirikan sholat, hingga berbuka puasa di dalam kamar rumah sakit.

Istri saya sama sekali tidak pulang ke rumah karena anak kami menangis menolak untuk ditinggalkan barang sejenak.

Situasi di ruang perawatan juga sangat tidak kondusif baginya untuk membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan mengetik.

Setelah kondisi anak kami membaik dan diizinkan pulang ke rumah, kami berdua terus memantaunya tanpa henti.

Masih ada sisa trauma yang mendalam di hati kami setelah menyaksikan insiden kejang-kejang tersebut.

Saya juga memutuskan untuk tidak melakukan iktikaf setiap malam di sepuluh hari terakhir masjid, karena rasa khawatir yang masih menyelimuti.

Cahaya menerangi kegelapan di malam bulan Ramadhan.
Image: iStock.com / Baramyou0708 (Standard License)

Sesungguhnya Kita Semua Benar-Benar Lemah

Pada malam takbiran, saya duduk diam merenung dan bermuhasabah.

Sahabat, betapa manusia sejatinya hanya bisa berniat, merencanakan, dan berusaha sekuat tenaga.

Namun pada akhirnya, Allah-lah yang memiliki kuasa mutlak untuk menentukan apakah usaha tersebut akan terwujud atau tidak.

Termasuk berbagai upaya luhur untuk mewujudkan Ramadhan terbaik dengan segenap amaliah ibadah yang lebih giat.

Semua rencana indah yang tersusun rapi itu ternyata menjadi tidak mudah dilaksanakan ketika Allah menguji kami dengan sakitnya sang anak.

Maka, di antara hikmah paling esensial yang kami petik dari perjalanan Ramadhan kali ini adalah sebuah kesadaran mutlak: sesungguhnya kita semua benar-benar lemah.

Kita sangat amat membutuhkan curahan rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bahwa seseorang mustahil sanggup menyelesaikan berbagai urusan di dalam hidupnya jika tanpa adanya pertolongan dari-Nya.

Sebagaimana tersurat dalam untaian doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup,

Wahai Rabb Yang Maha Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu),

dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan,

perbaikilah segala urusanku

dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dan Imam Al-Hakim)

Kami ingin terus memperbanyak istighfar dan berdoa.

Memohon ampunan agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghapus segala kesalahan kami, serta memberikan jalan kemudahan untuk menyelesaikan berbagai urusan di dunia ini.

Kami juga senantiasa berdoa agar tidak diuji dengan cobaan yang dahsyat, menyadari sepenuhnya betapa rentan dan lemahnya diri kami ini.

Betapa tingginya rasa butuh kami akan doa, sampai-sampai di usia yang sudah sedewasa ini, rasanya saya berdoa layaknya seorang bocah kecil yang sedang menangis merengek kepada orang tuanya.

Ya Allah, jangan galak-galak terhadapku dan keluargaku, terhadap kami semua. Kami hanyalah orang-orang yang sangat lemah.

Kami hanyalah manusia biasa yang hidup di akhir zaman, yang terus berusaha tertatih-tatih mendekati-Mu dengan segala keterbatasan yang ada.

Jangan jadikan kami khawatir dengan urusan kehidupan dunia kami.

Jangan biarkan kehidupan dunia ini membuat kami dirundung kekhawatiran.

Jadikanlah dunia ini hanya berada di bawah telapak kaki kami, bukan bersemayam di atas kepala maupun di dalam hati kami.

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: iStock.com / Jeja (Standard License)


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading