Takut Saat Turbulensi? Mari Sejenak Evaluasi Perjalanan

Turbulensi pesawat sering bikin ingat mati. Tenang, mari jadikan ini momen evaluasi lembut: sudahkah perjalanan kita berniat baik & berbekal halal?

Takut Saat Turbulensi? Mari Sejenak Evaluasi Perjalanan

Sahabat, sejak pertama kali naik pesawat hingga saat ini, sejujurnya saya tidak pernah menyukai turbulensi.

Turbulensi, yaitu ketika pesawat terguncang-guncang.

Merujuk pada penjelasan di situs web Traveloka, turbulensi pesawat adalah keadaan di mana terjadi perubahan tekanan dan kecepatan aliran udara secara drastis, yang menyebabkan timbulnya guncangan pada badan pesawat.

Secara teknis, turbulensi adalah hal yang sangat wajar terjadi dan tidak berbahaya.

Setiap pesawat telah dirancang sedemikian rupa agar kuat menghadapi guncangan tersebut.

Para pilot pun dapat memprediksi kapan terjadinya turbulensi menggunakan kecanggihan teknologi.

Biasanya pilot akan mengumumkan bahwa pesawat akan mengalami guncangan.

Umumnya, penyebab utama guncangan ini adalah awan atau cuaca buruk.

Di luar itu, ada juga fenomena clear air turbulence (CAT) yang justru terjadi secara tiba-tiba di udara yang cerah.

Walaupun saya sudah mencerna penjelasan ilmiah tersebut, kenyataannya saya tetap saja merasa khawatir.

Hati ini selalu diliputi perasaan waswas setiap kali pesawat mulai berguncang.

Jujur saja, saat guncangan keras terjadi, ingatan saya langsung tertuju pada berbagai kesalahan dan dosa yang pernah saya lakukan selama hidup.

Ketika guncangannya terasa semakin membesar, rasa takut itu ikut membesar.

Timbul penyesalan dan ketakutan yang mendalam.

Bagaimana jika Allah mencabut nyawa saya saat itu juga di tengah perjalanan udara ini?

Apakah saya akan kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik)?

Kondisi waswas dan menegangkan di udara tersebut pada akhirnya memberikan saya dua pelajaran hidup yang sangat berharga:

☑️ 1. Manusia Sering Lupa, Baru Ingat Ketika Diguncang

Ketika sedang dalam perjalanan udara yang mulus, saya kerap kali asyik mengobrol dengan teman seperjalanan, asyik membaca buku, tertidur lelap, atau sekadar melamun santai.

Namun, begitu terjadi guncangan hebat, lisan ini langsung teringat untuk merapal doa, memperbanyak zikir, dan memohon ampunan (istighfar).

Layaknya turbulensi di udara, begitulah potret kehidupan kita.

Seseorang kerap kali menjalani kehidupan dengan terlalu sibuk mengejar dan mengingat urusan dunia.

Apabila musibah atau ujian datang mengguncang, barulah dia tersadar untuk segera kembali mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Manusia memang sering lupa pada hakikat kehidupannya yang sementara, lalai akan tujuan hidup yang sesungguhnya, dan baru benar-benar tersadar ketika kehidupannya sedang diguncang hebat oleh Sang Pencipta.

☑️ 2. Guncangan Menjadi Alarm Pengingat Arah Perjalanan

Guncangan tersebut pada hakikatnya memaksa kita untuk melakukan introspeksi dan muhasabah diri.

Kita dituntut untuk selalu memastikan bahwa perjalanan hidup yang sedang ditempuh adalah perjalanan yang baik dan sepenuhnya diridai oleh Allah.

Seseorang pasti akan memiliki hati yang jauh lebih tenang apabila dia menempuh jalan yang benar.

Perjalanan hidup yang diawali dengan niat baik, dibiayai dengan harta yang halal, dan senantiasa diisi dengan berbagai amal kebaikan.

Hati yang bersih seperti inilah yang akan lebih mudah ditenangkan dengan zikir dan doa, tak peduli sekeras apa pun turbulensi kehidupan menghantam raga.

Sahabat, kepada Allah kita berdoa, agar senantiasa diberikan kelapangan hati dan keteguhan iman untuk menghadapi setiap guncangan dalam perjalanan hidup ini.

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: Pixabay.com / Javaistan


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading