Sahabat, tahukah Anda bahwa sebuah tindakan sederhana bisa menjadi jalan turunnya pertolongan Allah secara tidak terduga?
Pengalaman penuh hikmah ini saya alami sendiri saat melakukan perjalanan menggunakan Kereta Api Jayabaya.
Update: Tulisan ini telah saya bagikan ke grup WhatsApp Alumni Hiroshima University, kemudian diteruskan kepada pihak KAI oleh Ibu Ir. Erni Basri, ST., M.Eng., IPM, ASEAN Eng., dan memperoleh respons positif sebagaimana tangkapan layar di bawah ini:


Ceritanya bermula pada suatu senja menjelang maghrib, sekitar pukul 17.40 WIB.
Kereta Api Jayabaya yang akan membawa saya menuju Bangil, Jawa Timur, baru saja tiba di Stasiun Bekasi.
Tujuan kepergian saya malam itu adalah untuk menjemput istri dan anak yang sedang mudik.
Saya pun masuk ke dalam gerbong dan duduk di bangku sesuai nomor tiket.
Seorang Anak Perempuan yang Menahan Sakit
Tepat di depan bangku saya, duduk seorang anak perempuan yang ditemani seorang wanita di sisi kanannya.
Sementara di sebelah kirinya, ada seorang wanita lain yang berdiri.
Dari percakapan mereka, saya menyimpulkan bahwa mereka adalah satu rombongan keluarga.
Terdengar suara rintihan pelan dari anak tersebut, seolah sedang menahan rasa sakit.
Awalnya saya belum yakin, tetapi setelah kereta kembali melaju, anak itu menangis dan mengeluh perutnya sakit!
Melihat pemandangan itu, hati saya langsung terenyuh.
Saya teringat pada anak saya sendiri.
Saya terus memperhatikan mereka dengan perasaan cemas.
Anak itu menolak makan.
Dia hanya ingin menyantap makanan berkuah, sementara di gerbong restorasi tidak tersedia menu yang sesuai.
Sempat terlintas niat untuk memberikan bekal makanan yang saya bawa.
Sayangnya, bekal saya adalah ayam geprek pedas tanpa kuah, yang pastinya sangat tidak cocok untuk orang yang sedang sakit perut.
Saya benar-benar ingin melakukan sesuatu, tetapi bingung langkah apa yang tepat.
Keluarganya terus berusaha menenangkan anak tersebut sambil mengajaknya berdoa agar lekas sembuh.
Terdengar pula lantunan tilawah Al-Qur’an yang diputar dari handphone untuk membantu menenangkan suasana.
Rasa Resah yang Semakin Menjadi
Setengah jam berlalu, anak itu masih sesekali menangis tertahan.
Perutnya masih sakit, dan dia juga mengeluh kedua tangannya mulai terasa kaku.
Diam-diam, saya semakin gelisah. Sakit apakah itu?
Apakah asam lambung, atau usus buntu?
Apa pun penyakitnya, kondisi ini sepertinya memerlukan penanganan medis segera.
Sangat kasihan jika dia harus menahan sakit sepanjang sisa perjalanan.
Saya segera membuka akun media sosial PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).
Terpikir oleh saya untuk mengirimkan pesan kepada pihak KAI bahwa ada seorang anak yang sedang kesakitan di gerbong saya.
Saya pernah membaca berita inspiratif tentang seorang penumpang yang melahirkan di dalam kereta berkat bantuan petugas dan penumpang lain yang berprofesi sebagai dokter.
Berbekal ingatan itu, saya yakin saya memiliki kesempatan untuk ikut mencarikan pertolongan bagi anak di depan saya ini.

Minyak Angin yang Hilang
Di tengah kebingungan memikirkan cara melapor, wanita di sisi kanan anak tersebut tampak kebingungan mencari sesuatu.
Rupanya, minyak angin yang dibawanya jatuh ke lantai kereta dan menghilang.
Sepertinya benda itu menggelinding entah ke mana.
Dia menoleh dan meminta tolong kepada saya, barangkali saya melihat botol minyak angin tersebut di area kaki saya.
Saya tidak melihatnya.
Saya bahkan ikut merunduk dan mencarinya di kolong bangku, tetapi benda itu tetap tidak berhasil ditemukan.
Bangku Rusak dan Hadirnya Teknisi Kereta
Sekitar pukul 18.40 WIB, kereta tiba di Stasiun Cikampek.
Seorang penumpang wanita masuk ke dalam gerbong dan duduk di bangku seberang saya.
Ternyata, bangku yang akan didudukinya mengalami kerusakan, sehingga dia langsung melapor kepada petugas kereta.
Beberapa menit kemudian, seorang teknisi datang membawa peralatan untuk memperbaiki bangku tersebut.
Mengingat anak tadi masih terus kesakitan dan minyak angin belum juga ditemukan, saya tergerak untuk menyapa sang teknisi.
“Mas, maaf, apakah di kereta ini tersedia kotak P3K?” tanya saya.
“Kalau di gerbong ini tidak ada, Mas, tapi di kondektur ada. Masnya butuh apa?” jawabnya ramah.
“Bukan untuk saya, Mas, tapi untuk anak di depan ini. Dari tadi dia kesakitan. Barangkali di kotak P3K ada minyak angin?” ujar saya menjelaskan situasi.
Sang teknisi langsung menatap anak tersebut, mengangguk, lalu mengambil alat komunikasi untuk memanggil kondektur kereta.
Tidak lama berselang, kondektur datang bersama seorang petugas keamanan membawakan minyak angin yang dibutuhkan.
Setelah menanyakan kondisi sang anak sejenak, mereka pun kembali ke gerbong depan.
Selesai?
Ternyata belum, ada kejutan pertolongan yang akan segera datang.
Sahabat, setelah ini ada pertolongan tak terduga yang terus saya kenang hingga sekarang.
Baca Juga: Hidup Terasa Berat? Kunci Pertolongan di Surah Nuh 10-12
Bantuan Medis yang Tidak Terduga
Waktu terus berjalan.
Tanpa pernah saya duga sebelumnya, bapak kondektur dan petugas keamanan tadi kembali menghampiri rombongan keluarga tersebut.
Mereka mengabarkan bahwa PT KAI telah berkoordinasi, dan nanti saat tiba di Stasiun Cirebon, akan ada dokter dari puskesmas yang masuk ke gerbong untuk memeriksa sang anak!
Wow, saya sangat terkejut sekaligus takjub.
Rupanya, kru Kereta Api Jayabaya merespons laporan tersebut dengan sangat serius hingga menyiapkan tenaga medis.
Saya sangat bersyukur, alhamdulillah, anak tersebut akan segera mendapat penanganan yang layak.
Meski begitu, perjalanan menuju Stasiun Cirebon masih memakan waktu sekitar satu jam.
Anak itu masih harus bertahan menahan rasa sakitnya.
Sebenarnya mata saya sudah sangat mengantuk, tetapi rasa penasaran dan peduli membuat saya tetap terjaga untuk melihat kelanjutannya.
Sekitar pukul 20.30 WIB, kereta akhirnya merapat di Stasiun Cirebon.
Daan Alhamdulillah, dokter yang dijanjikan benar-benar datang bersama kondektur dan beberapa petugas KAI lainnya!
Mereka langsung memeriksa kondisi anak tersebut.
Saturasi oksigennya diukur menggunakan oxymeter, dan hasilnya aman.
Dia juga dipastikan tidak mengalami demam.
Ibu dokter menawarkan obat parasetamol untuk meredakan nyeri, namun saya membatin sepertinya anak itu akan kesulitan menelan obat, mengingat makanan pun sulit masuk.
Syukurlah, pihak KAI memberikan solusi kedua yang sangat bijak: anak tersebut ditawari untuk turun dari kereta agar bisa diperiksa lebih komprehensif di fasilitas kesehatan stasiun.
Petugas menjelaskan bahwa setelah kondisinya membaik, mereka sekeluarga bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kereta jadwal berikutnya tanpa perlu membeli tiket baru.
Dia bilang, semuanya akan ditanggung oleh PT KAI, selama masih ada kursi yang tersedia.
Pihak keluarga pun menyetujui penawaran tersebut.
Proses evakuasi dilakukan dengan sangat sigap.
Ada petugas yang bersiap membantu menggendong, dan ada pula yang berkoordinasi melalui handy talky untuk menyiapkan kursi roda di peron.
Anak itu akhirnya berhasil dibujuk untuk turun sambil digendong oleh keluarganya.

Pertolongan Allah Datang dari Arah Mana Saja
Setelah kereta kembali melaju meninggalkan Stasiun Cirebon, dada saya terasa sangat lega.
Saya berjalan menuju gerbong restorasi, membeli segelas kopi hitam, lalu menikmatinya dengan rasa damai yang memenuhi hati.
Saya sangat bersyukur telah berinisiatif menanyakan kotak P3K kepada teknisi yang sedang membetulkan kursi.
Berawal dari pertanyaan sederhana itulah, proses komunikasi terbuka dan sang anak akhirnya mendapatkan pertolongan medis yang sangat paripurna.
Saya juga sangat mengapresiasi para kru PT KAI yang bertugas malam itu.
Mereka turun tangan dengan luar biasa sigap.
Saya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar membalas seluruh kebaikan para petugas tersebut dengan ganjaran yang berlipat ganda.
Dari rentetan peristiwa ini, saya menyaksikan contoh nyata bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah mana saja, termasuk dari jalan yang sama sekali tidak disangka-sangka.
Saya bukanlah siapa-siapa, apalagi bagian dari keluarga anak tersebut.
Namun, Allah mentakdirkan saya duduk tepat di belakang mereka, membuat saya ikut merasakan keresahan, yang pada akhirnya mendorong lidah ini untuk bertanya kepada sang teknisi kereta.
Saya berdoa agar anak perempuan tersebut segera diberikan kesembuhan secara total, dan seluruh keluarganya dapat tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk PT Kereta Api Indonesia beserta segenap kru yang bertugas. Semakin berjaya melayani masyarakat!
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / MicroStockHub (Standard License)

Leave a Reply