Sahabat, mari bayangkan sebuah kisah tentang seorang pemuda yang baru saja diterima di fakultas kedokteran impiannya.
Dia sangat antusias dan bercita-cita ingin menjadi dokter hebat.
Di awal semester, dia memborong berbagai buku kuliah kedokteran dengan riang gembira.
Dalam hati dia bergumam, “Kamar kosku harus penuh buku agar aura mahasiswa kedokteran di kampus bergengsi ini benar-benar terasa!”
Totalitasnya tidak berhenti di situ.
Dia mencari foto-foto kampus di internet, mencetaknya, dan menempelkannya di dinding kamar.
Dia bahkan mengecat kamarnya dengan warna kebanggaan almamater.
Setiap pagi, dia lari pagi mengelilingi kampus sambil berseru bangga, “Aku cinta kampusku!”

Bahkan, dia membeli banyak sekali pot tanaman dan meletakkannya secara diam-diam di malam hari pada berbagai sudut kampus.
Agar hasilnya sempurna, dia meletakkannya di sudut tersembunyi yang bahkan kucing oren pun tidak pernah lewat di sana.
Merasa potnya butuh tatakan yang bagus, dia sengaja pergi ke Jepara selama tiga bulan penuh hanya untuk belajar membuat rak kayu jati yang tahan segala cuaca.
Tabungannya pun terkuras habis.
Untuk menyambung hidup dan mendanai aksi “cinta kampus” tersebut, dia nekat bekerja paruh waktu di sebuah minimarket pada shift malam.
Uang gajinya lalu dia belikan ikan-ikan kecil untuk ditebar di kolam kampus.
Sungguh luar biasa sibuk sang pemuda ini sepanjang semester pertamanya!
Surat Peringatan dari Kampus Tercinta
Hingga akhirnya, di penghujung semester pertama, sepucuk surat resmi dari kampus tiba di kamar kosnya.
Isinya singkat namun bagai petir di siang bolong: Dia resmi di-DO (Drop Out) alias dikeluarkan!
Dengan perasaan terkejut dan tidak terima, dia bergegas mendatangi ruang rektorat.
Di hadapan Pak Rektor, sang pemuda menggelar semua bukti struk pembelian dan foto-foto aktivitasnya.
Mulai dari mengecat trotoar, membuat rak jati, hingga menanam pohon pisang di belakang gedung fakultas.
Semuanya telah dia lakukan!
“Kenapa saya dikeluarkan? Kenapa??” protesnya.
Pak Rektor menatapnya tajam lalu menjawab,
“Kami tidak pernah meminta Anda melakukan semua itu.
Memangnya kapan kami pernah menyuruh Anda membuat rak kayu atau menebar benih ikan?”
Beliau melanjutkan,
“Sebagai mahasiswa, tugas utama Anda adalah hadir di kelas, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan lulus ujian.
Tetapi ternyata, satu pun dari tugas wajib tersebut sama sekali tidak pernah Anda lakukan!”
Akankah Lelah Kita Menjadi Debu Beterbangan?
Kisah di atas tentu hanyalah sebuah perumpamaan belaka.
Jika kita benar-benar menemui sosok mahasiswa seperti itu, kita pasti akan menggelengkan kepala.
Sangat mengherankan melihat seseorang rela sibuk setengah mati, tetapi justru mengabaikan satu-satunya tugas utama yang diwajibkan kepadanya.
Akan tetapi, mari kita berkaca secara jujur.
Jangan-jangan, tanpa sadar kita sedang memerankan tokoh mahasiswa tersebut di panggung kehidupan yang sesungguhnya.
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa tujuan utama penciptaan manusia sangatlah jelas, yakni untuk beribadah kepada Allah.
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Al-Qur’an Surah Az-Zariat ayat 56)
Dalam menjalani hari-hari di dunia, kita sering kali merasa sangat lelah oleh tumpukan kesibukan.
Kita merasa telah mencetak banyak prestasi, mengumpulkan harta, dan melakukan hal-hal yang tampak fantastis di mata manusia.
Namun, apakah rentetan kesibukan tersebut benar-benar mendekatkan diri kita pada tujuan penciptaan?
Ataukah kelak semua keringat dan pencapaian itu hanya akan menjadi debu yang beterbangan tak bernilai?
Yaitu, ketika kita hanya sibuk bergerak ke sana kemari, tetapi tidak dilandasi dengan keimanan kepada Allah dan tidak punya perhatian untuk mencari tahu apa yang Allah perintahkan kepada kita.
“Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 23)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa amal-amal tersebut tidak diterima dan hancur bagaikan debu karena dilakukan tanpa dilandasi fondasi keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Oleh karena itu, ini adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk mengevaluasi kembali setiap kesibukan yang telah, sedang, dan akan kita jalani.
Mari pastikan lelah kita berada di jalur yang benar.
Jalur yang membawa kita meraih rida Allah, dengan jalan beribadah sesuai tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Agar setiap lelah kita bernilai di sisi Allah.
Baca Juga: Hidup Adalah Perjalanan: 3 Kunci Hati Tenang & Tak Tersesat
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: Pixabay.com / NickyPe

Leave a Reply