Menurunkan Standar Bahagia lewat Mainan Kertas

Anak-anak bisa bahagia hanya dengan kertas lecek. Mengapa saat dewasa kita sulit bersyukur? Mari temukan kembali kebahagiaan dalam kesederhanaan.

Menurunkan Standar Bahagia lewat Mainan Kertas

Sahabat, mainan dari selembar kertas ini terlihat begitu sederhana.

Hanya digambar menggunakan pensil dan diwarnai dengan krayon satu warna: biru.

Ceritanya, ini adalah karakter Robocar Poli.

Mainan kertas Robocar Poli.

Walaupun kertasnya sudah lecek, anak saya sangat menyukainya.

Benda ini bahkan menjadi mainan utamanya selama beberapa hari dan selalu dibawa tidur.

Ketika tangan robot kertas ini sobek, ibunya menyambungnya kembali menggunakan selotip bolak-balik (double tape).

Mainan itu pun kembali menemaninya bermain dengan riang.

Selama berhari-hari, mainan sederhana itu terus dibawa ke mana-mana sampai kondisinya benar-benar semakin lecek.

Mengamati kedekatan anak saya dengan mainannya tersebut membuat saya merenung.

Saat masih anak-anak, ada begitu banyak hal sederhana yang sanggup membuat kita merasa sangat senang.

Ada yang sudah merasa bahagia hanya dengan memeluk boneka usang, menyandarkan kepala di bantal butut, asyik bermain adu biji karet, dan hal-hal kecil lainnya.

Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, kita mulai memiliki terlalu banyak keinginan dan tanpa sadar terus menaikkan standar kebahagiaan.

Kita mulai kesulitan merasa bahagia terhadap hal-hal yang sederhana.

Kita cenderung menuntut lebih dan menjadi tidak mudah bersyukur atas apa yang sudah ada di genggaman tangan.

Sahabat, apakah Anda juga memiliki memori tentang mainan masa kecil yang amat Anda sukai meskipun bentuknya sangat sederhana?

Mari berbagi cerita di kolom komentar!

Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com

Featured Image: iStock.com / SrdjanPav (Standard License)


Discover more from Tambah Baik

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

4 responses to “Menurunkan Standar Bahagia lewat Mainan Kertas”

  1. Salim Avatar

    Wah, menarik!

    Kalau saya, dulu suka sekali dengan sepotong bambu. Kira-kira panjangnya 40cm. Bambu itu berasal dari pohon bambu kuning yang ditanam di dekat pagar rumah sebagai pengindah.

    Karena sudah terlalu tinggi, bapak saya memotongnya menjadi beberapa bagian. Bambu itu kemudian dibersihkan dan diampelas hingga halus. Alhasil saya suka. Sampai sekarang tersisa sepotong dan saya masih saja menyukainya. Hehehe.

    Oya, robotnya mungkin bisa di-laminating Mas, biar awet…

    1. Mohamad Iqbal Akhirudin Avatar

      Wah, bambunya masih ada sampai sekarang, Mas Salim?

  2. fanny Nila - dcatqueen.com Avatar

    jadi ingat masa kecil…. zaman dulu memang, mainan sederhana pun udah bikin seneeeng ya mas.. aku inget waktu kecil diajarin ama tukang kebun di rumah bikin senapan dari pelepah pisang… daunnya dibuang,,, trus di sayat2 beberapa titik… agak susah jelasin cara bikin, tapi aku masih ingat kalu harus lakuin sendiri…. dan jadinya senapan pelepah pisang hahahahahah… aku memang lebih suka main yg rada kecowokan gini hihihihihi.

    kalau anak skr, beuuugh….bosan yg ada main begini…. udah terpapar gadget sedari kecil ;p

    1. Mohamad Iqbal Akhirudin Avatar

      Wah, kalau senapan pelepah pisang sih saya pernah juga. Dulu ada juga permainan pakai biji karet.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from Tambah Baik

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading