Sahabat, terkadang kita tanpa sadar menunda-nunda melaksanakan niat baik, salah satunya adalah niat untuk membaca Al-Qur’an secara rutin.
Keinginan di dalam hati sebenarnya sangat besar untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an setidaknya sebulan sekali, yakni dengan target membaca satu juz setiap hari.
Namun, karena rasa malas yang kerap melanda jiwa atau kesibukan urusan duniawi yang berlebihan, niat baik tersebut terus saja tertunda.
Tidak jarang, keberhasilan mengkhatamkan kitab suci ini hanya terjadi pada saat bulan suci Ramadhan saja.
Baca Juga: Meraih Ramadhan Terbaik: 7 Ide Resolusi Perbaikan Diri
Rutinitas Membaca yang Pudar Selepas Ramadhan
Setelah Ramadhan berlalu, mushaf Al-Qur’an kembali terabaikan. Interaksi dengan kalam Ilahi menjadi sangat jarang.
Dan sejujurnya, saya sendiri juga mengalami siklus tersebut.
Saya pernah membaca Al-Qur’an dengan penuh semangat, tetapi rutinitas itu hanya bertahan di bulan Ramadhan.
Setelah itu, semangat membaca perlahan berkurang, menyusut, hingga akhirnya pudar sama sekali.
Namun pada hari ini, saya ingin menegaskan kepada diri saya sendiri: enough is enough, sudah cukup.
Penyakit Hati dan Hidup Berantakan Akibat Jauh dari Al-Qur’an
Dampak buruk dari kurangnya interaksi dengan Al-Qur’an benar-benar bisa dirasakan secara nyata.
Sebut saja munculnya rasa gelisah di dalam hati yang tidak berkesudahan, hilangnya ketenangan jiwa, hingga rentetan urusan hidup yang terasa berantakan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu,
penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada,
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.” (Al-Qur’an Surah Yunus ayat 57)
Al-Qur’an adalah penawar atau obat bagi segala penyakit batin yang bersarang di dalam dada. Lalu, bagaimana jadinya jika seseorang malas membaca Al-Qur’an?
Tentu saja penyakit di dalam hatinya tidak akan pernah terobati!
Dengan kondisi batin yang sakit dan gersang tersebut, berbagai urusan dalam kehidupan sehari-hari menjadi terasa sangat melelahkan.
Wajar jika pada akhirnya hidup menjadi terasa berantakan dan kehilangan arah.
Baca Juga: Hidup Adalah Perjalanan: 3 Kunci Hati Tenang & Tak Tersesat
Bertekad Memulai Detik Ini Juga Tanpa Menunda
Oleh sebab itu, saya bertekad kuat untuk segera memperbaiki kualitas dan kuantitas interaksi saya dengan Al-Qur’an.
Ketika tekad ini muncul, sempat terlintas di pikiran untuk menundanya sejenak dengan dalih ingin membereskan hal lain terlebih dahulu.
Misalnya, ingin merapikan kamar tidur yang berantakan atau menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih terbengkalai.
Pikiran saya mengatakan, baru setelah semua urusan itu beres, saya akan mulai membuka lembaran Al-Qur’an.
Tetapi kemudian saya segera tersadar. Tidak bisa begitu caranya.
Saya harus mulai membaca Al-Qur’an sekarang juga. Saya harus membangun rutinitas tersebut detik ini juga.
Apa pun kondisi yang sedang saya alami saat ini, dan apa pun urusan duniawi yang sedang menunggu untuk diselesaikan, saya akan memulainya dengan memperbaiki hubungan saya dengan Al-Qur’an terlebih dahulu.
Tulisan ini sengaja saya buat sebagai sarana pengingat atas janji tersebut.
Sebuah jejak tekad bahwa mulai detik ini, saya akan sungguh-sungguh memperbaiki rutinitas interaksi saya dengan Al-Qur’an.
Melalui artikel ini pula, saya ingin mengajak Sahabat pembaca TambahBaik yang baik hatinya untuk ikut berjuang bersama.
Mari kita lawan rasa malas dan tingkatkan kualitas serta kuantitas bacaan Al-Qur’an kita setiap harinya.
Kita sama-sama berusaha, ya!
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / Baramyou0708 (Standard License)

Leave a Reply