Sahabat, saat pertama kali menyusun tulisan ini, saya baru saja melewati usia pernikahan yang ke-7.
Kini, pada usia pernikahan yang menginjak tahun ke-9, saya kembali memperbarui isinya.
Menurut saya pribadi, usia 9 tahun pun belumlah cukup untuk bisa berbicara banyak hal tentang asam garam pernikahan.
Masih terlalu hijau dan belum banyak pengalaman.
Akan tetapi, hal tersebut tidak mengurangi semangat saya untuk berbagi apa yang telah saya temukan di sepanjang perjalanan pernikahan saya sejauh ini.
Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi ide mengenai beberapa pertanyaan krusial yang perlu diajukan oleh seseorang yang sedang mencari calon suami atau istri.
Keinginan untuk menulis daftar pertanyaan ini muncul ketika saya memperoleh kabar dari sepupu laki-laki.
Dia bercerita bahwa saat ini sedang dekat dengan seorang perempuan yang sepertinya cocok dengannya, dan berharap untuk bisa maju ke tahap selanjutnya, yaitu pernikahan.
Mendengar kabar itu, saya pun menyusun beberapa daftar pertanyaan dan mengirimkannya ke sepupu saya tersebut untuk dijadikan bahan diskusi di antara keduanya.
Ketentuan Membaca Tulisan Ini
Sebelum membaca lebih lanjut, harap maklum bahwa tulisan ini memiliki beberapa ketentuan dasar sebagai berikut:
✅ Pertama, tulisan ini ditujukan untuk mereka yang bervisi kuat. Tulisan ini saya buat khusus untuk orang yang punya visi membentuk keluarga sakinah sehidup sesurga, serta bertekad sungguh-sungguh untuk melakukan berbagai tindakan yang diperlukan demi mewujudkannya.
Saya pernah mendengar ada yang bilang, “Buat saya pernikahan itu yang paling penting adalah laki-laki menikah dengan perempuan, hal-hal lainnya tidak perlu diperumit atau banyak pikiran.”
Saya juga pernah membaca komentar di media sosial, “Pernikahan itu jalani saja, nanti kalau kandas, ya sudah, move on dan menikah lagi.”
Jika ada orang yang memiliki pandangan demikian, atau berpandangan bahwa menikah itu cukup “mengalir saja”, maka tulisan ini jelas bukan untuk dirinya.
✅ Kedua, sekadar bentuk kepedulian. Seperti yang saya bilang di awal, saya merasa belum punya kapasitas mumpuni untuk menjadi seorang penasihat pernikahan.
Saya menulis daftar pertanyaan ini murni sebagai bentuk kepedulian kepada teman, sahabat, dan keluarga yang sedang mencari pasangan hidup.
✅ Ketiga, belajar dari meminimalisasi risiko. Sumber tulisan ini, selain dari berbagai referensi, juga berasal dari pengamatan saya terhadap apa saja hal yang tidak work (tidak berhasil) atau berpeluang besar menimbulkan masalah.
Saya tidak punya rumus pasti untuk sukses dalam pernikahan.
Saya hanya mencatat hal-hal penting yang perlu diperhatikan agar risiko kegagalan dapat lebih diminimalisasi.
✅ Keempat, sebagai alat pengurang masalah. Daftar pertanyaan ini sebaiknya segera dijawab tuntas di awal, jauh sebelum memutuskan untuk melangkah ke tahap serius.
Dalam pernikahan, kita pasti akan menjumpai berbagai permasalahan, dan itu wajar sekali.
Harapannya, daftar pertanyaan ini bisa mengeliminasi potensi konflik dasar, sehingga masalah yang muncul kelak benar-benar masalah baru yang memang mau tidak mau mesti dihadapi.
Ide Pertanyaan untuk Calon Suami/Istri
Baiklah, setelah menguraikan keempat ketentuan di atas, inilah daftar pertanyaan yang bisa ditanyakan saat proses penjajakan calon suami atau calon istri.
Catatan: Urutan penulisan pertanyaan ini tidak mencerminkan mana yang paling penting.
☑️ (1) Bagaimana cara dia belajar agamanya?
Pertanyaan ini didasari oleh hadits tentang memilih pasangan hidup, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:
“Perempuan itu dinikahi karena empat hal yaitu:
(1) hartanya,
(2) keturunannya,
(3) kecantikannya, dan
(4) agamanya.
Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”
(Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Majah)
☑️ (2) Apa status pernikahannya?
Hal mendasar ini sangat penting untuk ditanyakan secara terus terang.
Apakah dia berstatus lajang, sudah pernah menikah (cerai hidup atau cerai mati), atau bahkan ternyata masih berstatus sah sebagai suami atau istri orang lain?
Mengetahui fakta ini sejak awal akan menghindarkan dari berbagai kerumitan status hukum dan sosial di kemudian hari.
☑️ (3) Apa yang dibacanya?
Bagi saya pribadi, membaca bukanlah sekadar hobi, melainkan kebutuhan hidup sama seperti makan dan tidur.
Seseorang mestilah punya bahan bacaan yang rutin dikonsumsi.
Katakanlah dia benar-benar jarang membaca, maka ketika sekalinya membaca, apa yang dia baca?
Hal ini sangat penting untuk digali.
☑️ (4) Apa atau siapa tokoh idolanya?
Apakah seseorang merasa nyaman ketika pasangannya menyukai sesuatu (katakanlah sepatu merek tertentu), lalu dengan mudahnya mengolok-olok penggemar merek lain?
Saya pernah melihat perdebatan dengan kata-kata kasar di medsos hanya karena memperdebatkan sebuah film pahlawan super.
Jika Anda merasa penting untuk tidak mengidolakan secara berlebihan hal-hal yang tidak ada urusannya dengan kehidupan akhirat, maka pertanyaan ini wajib diajukan.
☑️ (5) Bagaimana cara dia mencari rezeki?
Pastikan sumber dan caranya halal serta thayyib.
☑️ (6) Apakah dia mudah percaya kabar hoaks dan informasi tanpa dasar?
Orang yang baik pada dasarnya tidak menyukai hoaks.
Seandainya suatu saat dia terjebak mempercayai sebuah kabar bohong, dia pasti akan segera mengevaluasi diri dan merasa sangat menyesal.
Sebaliknya, bukanlah sebuah kebaikan jika seseorang justru senang tenggelam dan ikut menyebarkan kabar yang tidak jelas asal-usulnya.
Hal ini sejalan dengan peringatan tegas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:
“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (Hadits riwayat Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam An-Nasa’i)
Bagi orang yang bervisi mendidik anak-anaknya kelak dengan ilmu yang lurus dan informasi yang valid, kekompakan adalah kunci utama.
Tentu seseorang akan sangat kesulitan membangun fondasi tersebut jika pasangannya tidak dapat diajak bekerja sama dalam menyaring kebenaran sebuah kabar.
Lagi pula, banyak mengurusi hal yang tidak jelas dan mengada-ada akan menghalangi fokus kita dalam menjalani kehidupan di dunia nyata.
☑️ (7) Kalau suami pergi merantau atau pindah tugas, apakah berkenan ikut?
Ada orang yang sanggup menjalani LDM (Long Distance Marriage), ada pula yang sama sekali tidak bisa.
Jika Anda termasuk orang yang tidak bisa berjauhan setelah menikah, maka hal ini wajib disepakati sejak awal.
☑️ (8) Bagaimana pandangannya jika kelak situasi keluarga mengharuskannya untuk melepas pekerjaannya?
Perubahan ritme kehidupan dari yang sangat aktif bekerja di luar rumah, lalu harus melepaskannya demi fokus penuh di dalam rumah, jelas bukanlah hal yang mudah.
Namun, dalam kenyataannya, terkadang dinamika rumah tangga menuntut adanya kompromi.
Misalnya saja, hal ini masih berkaitan erat dengan pertanyaan #7 (“Kalau suami pergi merantau atau pindah tugas, apakah berkenan ikut?”).
Bayangkan jika sang suami tiba-tiba dipindahtugaskan dari kantornya ke luar kota atau tempat lain untuk waktu yang cukup lama.
Kemudian, sang suami sangat berharap istrinya berkenan untuk ikut mendampingi.
Maka, apakah hal ini kelak bisa diterima dengan lapang dada oleh sang istri, mengingat dia harus melepaskan aktivitas pekerjaannya saat ini?
☑️ (9) Apakah saat ini ada tanggungan utang, berapa jumlahnya, dan kepada siapa?
Sangat perlu diketahui apa penyebab munculnya utang tersebut.
Apakah murni karena kebutuhan mendesak, ataukah sudah menjadi kebiasaan buruk?
Jika Anda tidak menyukai kebiasaan berutang demi hal-hal konsumtif (misalnya mencicil mobil baru hanya karena “panas” melihat tetangga), maka pertanyaan ini harus dijawab jujur di awal.
☑️ (10) Kalau kelak harus tinggal bersama mertua, bersedia atau tidak?
Ini adalah salah satu sumber konflik klasik yang harus disamakan frekuensinya sebelum menikah.
☑️ (11) Apakah dia merokok?
Pertanyaan ini sangat krusial ditanyakan jika Anda tidak ingin memiliki pasangan yang merokok.
Kalau sejak awal perkenalan Anda tahu dia perokok dan tetap melanjutkannya ke jenjang pernikahan, Anda tidak perlu kaget kelak.
Beberapa kali terlihat di medsos, keluhan istri yang suaminya merokok di mana saja, termasuk depan anaknya yang masih kecil.
Sebenarnya ini menimbulkan pertanyaan, apakah sang istri baru tahu kalau suaminya perokok? Kenapa, ya, baru mempermasalahkannya ketika sudah menikah?
Bagi Anda yang memiliki visi membangun rumah tanpa asap rokok, maka mencari pasangan yang tidak merokok adalah harga mati.
☑️ (12) Bersediakah mendaftarkan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA)?
Bisa jadi ada yang bertanya, bukankah mendaftarkan pernikahan di KUA tidak termasuk syarat sahnya pernikahan berdasarkan syariat?
Betul sekali. Tetapi, mari kita perhatikan, ada berbagai hal dalam agama ini yang sekadar sah saja tidaklah cukup.
Sebagai contoh, keberadaan “visa haji” dan “kuota haji” bukanlah syarat sahnya ibadah haji.
Akan tetapi, keberadaan visa dan kuota haji adalah hal yang diterima luas.
Tidak ada ulama sejak dahulu hingga sekarang yang mempermasalahkannya, karena memang diakui perlu adanya pengaturan pada pelaksanaan ibadah haji untuk kemaslahatan bersama.
Ibadah haji adalah rukun Islam. Tetapi meski berstatus rukun Islam, bukan berarti kita bisa datang dan pergi sesuka hati semau kita.
Contoh lainnya, menuntut ilmu agama itu wajib.
Tapi bukan berarti kita bisa datang ke pesantren atau kampus Islam lalu masuk ke kelas dan duduk begitu saja.
Tentu ada proses pendaftaran, bahkan ada juga ujian masuknya.
Maka sangat bisa dipahami jika pernikahan, yang merupakan ibadah terpanjang karena dimulai dari akad dan berakhir ketika kematian memisahkan, juga memiliki pengaturan administratif demi kemaslahatan.
Mendaftarkan pernikahan di KUA itu mudah dan murah.
Hal ini sangat bisa diusahakan bagi orang-orang yang memang serius untuk menikah.
Ketidakinginan mendaftarkan pernikahan secara resmi di KUA merupakan hal yang perlu digali dalam-dalam penyebabnya.
☑️ (13) Pertanyaan lainnya…
Dan berbagai pertanyaan spesifik lainnya yang kelak akan saya tambahkan di sini seiring berjalannya waktu.
Kesimpulan: Tuntaskan di Awal Apa yang Bisa Dituntaskan
Ide dasar dari tulisan ini adalah mengangkat daftar pertanyaan yang sering kali terlewat saat seseorang sedang mencari calon pasangan hidup.
Menurut pengamatan saya yang masih hijau ini, biasanya orang tidak pernah lupa untuk bertanya: “Berapa penghasilannya?” atau “Kerja di mana?”.
Namun, mereka kerap kali melupakan beberapa pertanyaan mendasar lainnya yang justru jauh lebih penting untuk kelangsungan rumah tangga.
Pada prinsipnya, saya sangat menyarankan agar hal-hal yang perlu diselesaikan di awal sebaiknya segera dibahas tuntas.
Dengan begitu, ketika sudah resmi menikah, diharapkan tidak ada lagi kejutan-kejutan prinsipil yang semestinya sudah terang-benderang sejak masa penjajakan.
Sekian tulisan ini, kepada Allah saya berdoa agar tulisan ini membawa manfaat.
Apakah Sahabat pembaca blog ini punya ide daftar pertanyaan lainnya?
Silakan tulis di kolom komentar, ya!
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / onurdongel (Standard License)

Leave a Reply