Sahabat, pernahkah Anda membaca sebuah buku lalu merasa kebingungan menentukan halaman mana yang mau dilipat sebagai penanda hal penting atau diberi highlight?
Itulah yang saya rasakan.
Hampir setiap halaman buku ini sangat inspiratif dan bisa langsung diaplikasikan dalam kehidupan nyata!
Buku ini sama sekali TIDAK MENGAJARI pembacanya tentang cara MENJADI kaya atau bahagia.
Sebaliknya, buku ini justru mengajari kita bagaimana cara MERASA kaya dan bahagia dengan apa yang sudah ada.
✨ Sekilas tentang Goodbye, Things
Sebelumnya, saya pernah mengulas buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo yang sangat luar biasa.
Nah, buku yang akan saya ulas kali ini menurut saya even better dan terasa lebih dahsyat dampaknya.
Buku tersebut berjudul Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism karya Fumio Sasaki.
Saya pertama kali membelinya di Google Play Books.
Beberapa waktu kemudian, terbitlah versi terjemahan bahasa Indonesianya oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang.
Ada pengalaman unik saat saya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Semarang.
Saat mampir ke sebuah toko buku di sana, saya terkesima melihat versi terjemahan buku ini mejeng di rak.
Saat sedang menimbang-nimbang, seorang pemuda antusias menghampiri saya dan berkata, “Bagus tuh, Mas, bukunya!”
Kami pun asyik bertukar cerita.
Rasanya luar biasa bisa mengobrol dengan orang yang belum saya kenal yang sama-sama tahu betapa life-changing buku tersebut.
Saking antusiasnya ingin mengapresiasi karya ini, saya akhirnya tetap membawa pulang versi cetaknya menuju meja kasir, meskipun saya sudah memiliki versi digitalnya.
✨ Siapa Fumio Sasaki?
Berbeda dengan Marie Kondo yang memang punya bakat berbenah sejak kecil, Fumio Sasaki dengan jujur mendeskripsikan dirinya sebagai pria yang biasa-biasa saja.
Saat menulis buku tersebut, ia adalah seorang pria lajang berusia 35 tahun yang bekerja sebagai editor.
Ia sempat kehilangan arah, kehilangan semangat kerja, dan terjebak pada pemikiran bahwa segalanya adalah tentang uang.
Ia sering membandingkan diri dengan orang yang lebih sukses, menenggak minuman keras, membiarkan apartemennya berantakan bak kapal pecah, hingga akhirnya putus cinta karena kondisi keuangannya yang menyedihkan.
Ia bukanlah sosok motivator bisnis ternama, bukan pula orang yang sukses menimbun kekayaan.
Ia hanyalah seseorang yang hidupnya pernah berantakan, lalu berhasil bangkit dan menemukan kebahagiaan murni dengan cara menyingkirkan barang-barang miliknya.
✨ Esensi Minimalisme ala Fumio Sasaki
Melalui bukunya, Sasaki membuktikan bahwa memiliki barang dalam jumlah sedikit justru memancarkan kebahagiaan tersendiri.
Minimalism menurut Fumio Sasaki adalah:
(1) Proses mengurangi barang kepemilikan kita hingga ke jumlah paling minimum.
(2) Hidup hanya dengan barang-barang itu agar kita dapat berfokus pada hal yang sungguh-sungguh penting bagi kita.
Satu ide besar yang sangat menggugah kesadaran saya: kapasitas otak manusia sejak dahulu hingga sekarang sebenarnya sama saja.
Akan tetapi, ketersediaan informasi di era internet ini sudah pada tahap banjir bandang.
Otak kita dijejali terlalu banyak hal.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita merampingkan barang dan isi benak kita, agar hal-hal penting di dalam hidup ini tidak terus-menerus terkubur di bawah tumpukan hal yang remeh-temeh.
✨ Apa yang Menarik dari Buku Ini?
Ada beberapa catatan menarik yang membuat saya sangat menyukai buku ini:
✅ Koleksi Foto yang Menyegarkan Batin
Di awal buku, terdapat deretan foto apartemen milik para praktisi minimalis.
Saran saya, versi e-book di Google Play Books menampilkan kualitas foto yang jauh lebih jernih.
Memandang foto-foto ruangan yang bersih dan lapang tersebut sukses membuat saya tenggelam pada nuansa kedamaian.
✅ Membuang Koleksi Video
Di tengah mudahnya akses konten dewasa di Jepang, Sasaki bercerita bahwa ia bertekad melepaskan diri dari kegemaran menontonnya.
Ia membuang semua koleksi video tersebut dari komputer pribadinya.
Menurut pengakuannya, menekan tombol delete untuk tumpukan video itulah yang paling menuntut keberanian terbesarnya saat berbenah!
✅ Cara Pandang Outside the Box
Ia mengajak kita meredefinisi arti kebahagiaan melalui analogi atlet sepak bola terkenal yang kalah di Piala Dunia.
Meski kalah, sang atlet tetaplah kaya raya dan dipuja banyak orang. Namun bagi sang atlet, seolah tidak ada kebahagiaan selain memenangkan piala tersebut.
Fumio Sasaki mengajak kita membayangkan situasi imajiner di mana dirinya menemui sang atlet yang sedang duduk di ruang ganti, kemudian menaruh tangan di pundaknya dan berkata:
“Ya sudah. Sekarang memang kalah. Tapi, memangnya kenapa?
Jangan murung.
Kau masih mendapat bayaran ratusan juta dan bisa berkeliling kota mengendarai mobil Ferrari.
Kau pun bisa menggantung sepatu sekarang dan berkeliling dunia.
Saya juga yakin, kau pasti bisa mendapat posisi sebagai pelatih.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang masa depan, kan?
Berbeda dengan saya. Jadi, sudahlah, ceria saja.”
Meski isi pesan yang disampaikan Fumio Sasaki kepada sang atlet pada pertemuan imajinernya terasa masuk akal, tetapi nyatanya kecil kemungkinan akan ada orang yang benar-benar menghibur sang atlet dengan komentar itu.
Maka, Sasaki mengajak kita merenung: bisakah kebahagiaan kita didefinisikan secara jauh lebih sederhana?
✨ Bisakah Kebahagiaan Didefinisikan Lebih Sederhana?
Pertanyaan Sasaki tersebut membuat saya merenungkan dua fenomena nyata di sekitar kita:
➡️ Fenomena Pertama: Ilusi Kesuksesan Finansial
Pernahkah Anda melihat orang kaya raya yang memiliki passive income berlimpah, lalu Anda berasumsi hidup mereka pasti tenang dan penuh ibadah?
Kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak orang yang hartanya melimpah namun tidak pernah merasa puas.
Ada yang terus bekerja gila-gilaan hingga menelantarkan keluarganya, atau terjun ke dunia politik dengan menghalalkan segala cara.
Punya banyak hal ternyata tidak otomatis membuat seseorang “merasa” cukup.
➡️ Fenomena Kedua: Ironi Penyelenggaraan Pernikahan
Dalam ajaran Islam, penyelenggaraan acara pernikahan itu sebenarnya relatif mudah dan sederhana.
Hal yang seharusnya membutuhkan effort luar biasa rumit justru adalah proses menyeleksi dan memilih calon suami atau istri yang berakhlak baik.
Sayangnya, banyak masyarakat kita yang membaliknya.
Acara pernikahannya dibikin terlampau rumit dan memaksakan diri hingga berutang puluhan juta, sedangkan proses memilih pasangannya dibikin terlampau mudah (hanya bermodal wajah rupawan atau pekerjaan semata).
Jika dana terbatas, bukankah jauh lebih bijak menyederhanakan resepsi yang hanya sehari itu, agar uangnya bisa digunakan untuk membeli kenyamanan pascanikah seperti mencicil rumah atau kendaraan?
Namun gengsi dan omongan orang sering kali memaksa seseorang menimbun beban utang demi sebuah pesta.
Baca Juga: Sangat Penting! Tanyakan Hal Ini kepada Calon Pasangan
✨ Kesimpulan: Rekomendasi 100%
Fumio Sasaki mengajak kita menata hati.
Daripada sibuk berusaha “menjadi” bahagia dengan mengejar standar orang lain, lebih baik kita belajar “merasa” bahagia dengan apa yang already ada di genggaman tangan.
Apakah saya merekomendasikan buku ini? Tentu saja 100%!
Sekian ulasan ini. Sahabat, apakah Anda juga pernah membaca buku ini dan merasa terinspirasi?
Mari bercerita di kolom komentar!

Leave a Reply to Mohamad Iqbal AkhirudinCancel reply