Sahabat, rasa malu karena sering mengulangi dosa dan kesalahan yang sama padahal sudah pernah berjanji tidak melakukannya lagi adalah hal yang sangat wajar.
Perasaan itu sudah semestinya ada pada setiap orang yang jujur dengan hati nuraninya.
Bukankah wajar jika kita merasa malu?
Hari ini kita mengucapkan istighfar karena bangun kesiangan sehingga terlewat waktu subuh, tetapi beberapa hari kemudian kita mengulangi kesalahan yang sama.
Atau, hari ini kita beristighfar karena melihat sesuatu yang diharamkan, namun beberapa hari kemudian pertahanan diri kembali runtuh dan mata kembali menatap hal yang dilarang.
Dan pengulangan demi pengulangan dosa lainnya terus saja terjadi.
Lalu, dengan kondisi seperti itu, pantaskah kita tidak merasa malu saat lisan ini kembali mengucapkan istighfar?
Baca Juga: Istighfar: Jaminan Keamanan Terakhir bagi Kita
Tipu Daya Setan di Balik Rasa Malu Beristighfar
Sahabat, mari kita perhatikan nasihat berharga dari Imam Hasan Al-Bashri tentang rasa malu dalam beristighfar.
Dalam buku Dahsyatnya Istighfar (At-Tadawi bil Istighfar) karya Hasan bin Ahmad Hamam yang diterbitkan oleh Mumtaza (Solo, 2019), diceritakan sebuah kisah penuh hikmah.
Seseorang pernah bertanya kepada Imam Hasan Al-Bashri: tidak malukah seseorang yang banyak berbuat dosa, kemudian beristighfar, lalu berbuat dosa lagi, dan beristighfar lagi, begitu terus seterusnya?
Mari kita resapi bersama apa yang beliau katakan.
Beliau memberikan jawaban yang sangat menyentak kesadaran.
Beliau menjelaskan bahwa setan justru sangat ingin berhasil menggoda manusia untuk bersikap seperti itu.
Setan menanamkan bisikan agar manusia merasa sangat malu untuk beristighfar, hingga akhirnya mereka benar-benar berhenti memohon ampunan!
Ubah Rasa Malu Menjadi Istighfar yang Lebih Dalam
Maka, memiliki rasa malu itu wajar.
Bahkan sifat tersebut memang semestinya ada di dalam jiwa kita, karena seseorang yang jujur hatinya tentu akan merasa sangat tertampar oleh kesalahan yang berulang kali dilakukannya.
Akan tetapi, rasa malu tersebut sama sekali tidak boleh membuat seseorang menjadi enggan mengucapkan istighfar.
Justru sebaliknya, rasa malu itu semestinya membuat istighfar yang diucapkan terasa semakin dalam, semakin khusyuk, semakin syahdu, dan benar-benar jujur terucap dari lubuk hati yang terdalam.
Sebagai penutup pengingat diri ini, mari kita terus memperbanyak beristighfar kepada Allah tanpa perlu merasa putus asa.
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: iStock.com / baona (Standard License)