Sahabat, ada sebuah buku yang sangat saya anjurkan agar Pembaca bisa memiliki dan membacanya.
Buku ini berjudul Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah karya Muhamad Yasir, Lc., yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar (Jakarta, 2023).
Setelah selesai membacanya, dengan sepenuh hati saya katakan bahwa ini adalah salah satu buku paling penting dan berpengaruh dalam hidup saya.
Saya sengaja mencatat salah satu poin berharga dari buku tersebut di blog ini, murni karena saya ingin terus mengingatnya dan belajar menerapkannya dalam keseharian.
Sebagaimana saya telah merasakan manfaat yang besar dari buku ini, saya juga amat menantikan agar Sahabat pembaca sekalian turut mendapatkan pencerahan yang sama.
Tentu akan jauh lebih baik apabila Anda bisa mengkaji langsung buku tersebut, membaca poin-poin penting lainnya, dan pada akhirnya kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa berprasangka baik kepada Allah.
Kisah Ibunda Nabi Musa dan Kekejaman Firaun
Pada kesempatan kali ini, saya akan mengutip salah satu faedah, ilmu, dan inspirasi istimewa dari buku tersebut.
Kisah ini mengambil latar saat ibunda Nabi Musa ‘Alaihissalam sedang sangat mengkhawatirkan nasib putranya yang saat itu masih bayi.
Kekhawatiran itu muncul karena Raja Firaun yang berkuasa saat itu meyakini bahwa takhtanya kelak akan runtuh di tangan seorang lelaki dari kalangan Bani Israil.
Demi mengamankan posisinya, sang tiran tersebut mulai membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir dari kalangan Bani Israil.
Tentu saja, ibunda Nabi Musa sangat ketakutan anak laki-lakinya akan ikut dibunuh oleh bala tentara Firaun.
Perlindungan Total Murni Bersumber dari Allah
Sekarang, mari kita perhatikan hikmah mendalam yang disampaikan di dalam buku Jangan Mati sebelum Berprasangka Baik kepada Allah tersebut:
Saat ibu Musa ketakutan akan bayinya, Allah berkata kepadanya, “Jika engkau takut, maka letakkan bayi itu di sungai.”
Pertanyaannya, mengapa tidak dalam dekapan ibunya karena itu jauh lebih aman untuk bayi dan ibunya?
Jawabannya, karena Allah ingin memperlihatkan perlindungan itu secara total bersumber dari-Nya, tanpa melibatkan siapa-siapa.
Tulisan tersebut menyentak kesadaran kita bahwa sang pemberi keamanan sejati tidak lain adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Secara hitungan logika manusia, bayi yang masih sangat lemah dan belum bisa menjaga dirinya sendiri pasti akan jauh lebih aman jika bersembunyi di dalam dekapan seorang ibu ketimbang dihanyutkan ke sungai.
Namun, dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam, ternyata Allah justru memerintahkan ibunda beliau untuk meletakkan sang bayi ke atas aliran sungai.
Hal ini terekam abadi dalam firman Allah pada Surah Al-Qasas ayat 7:
Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa).
Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung).
Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih.
Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.” (Al-Qur’an Surah Al-Qasas ayat 7)
Ya, Allah langsung turun tangan menjadi satu-satunya pelindung bagi Nabi Musa ‘Alaihissalam, tanpa melibatkan seorang pun!
Demikianlah tulisan ini.
Kepada Allah saya memohon dan menengadahkan tangan, agar tulisan ini dapat menjadi penyemangat bagi kita semua untuk senantiasa berprasangka baik kepada-Nya dalam segala urusan.
Mohamad Iqbal Akhirudin // TambahBaik.com
Featured Image: Pixabay.com / GPoulsen

Leave a Reply