Sahabat, pada tanggal 2 Januari 2026, salju turun mewarnai kota Kyoto, Jepang.
Namun di area tempat saya tinggal, yaitu Shugakuin (修学院), intensitas saljunya tidak terlalu banyak.
Di sisi lain, anak saya sudah sangat antusias dan tidak sabar ingin melihat salju yang tebal.
Maka pada sore harinya, saya dan keluarga memutuskan untuk pergi ke Stasiun Kurama (鞍馬駅) menaiki kereta demi mencari tumpukan salju yang lebih berlimpah.
Penasaran bagaimana serunya suasana bermain di tengah hujan salju pada malam hari di Stasiun Kurama?
Berikut adalah videonya:
Tepat pada pukul 16:34 JST (waktu Jepang), kereta Eizan Railway jurusan Kurama tiba di Stasiun Shugakuin, yang menjadi titik awal keberangkatan kami.
Dari balik jendela kereta, pemandangan mulai berubah.
Semakin kami mendekati arah Kurama, hujan salju terlihat turun semakin deras.

Kereta Eizan Railway yang kami naiki ini memiliki susunan bangku yang dihadapkan langsung ke arah jendela.
Tidak semua armada kereta dirancang seperti ini.
Khusus untuk rute menuju Kurama, kereta dengan konfigurasi bangku menghadap jendela berukuran ekstra besar ini dinamakan kereta “KIRARA”, yang dirancang agar penumpang leluasa menikmati pemandangan alam.

Dari Stasiun Shugakuin, ada 9 stasiun yang harus kami lalui sebelum kereta mengakhiri perjalanannya di Stasiun Kurama. Berikut adalah urutannya:
- Shugakuin Station (修学院駅)
- Takaragaike Station (宝ケ池駅)
- Hachiman-Mae Station (八幡前駅)
- Iwakura Station (岩倉駅)
- Kino Station (木野駅)
- Kyoto-Seikadai-Mae Station (京都精華大前駅)
- Nikenchaya Station (二軒茶屋駅)
- Ichihara Station (市原駅)
- Ninose Station (二ノ瀬駅)
- Kibuneguchi Station (貴船口駅)
- Kurama Station (鞍馬駅)
Pada pukul 17:01 JST, atau sekitar 24 menit perjalanan kemudian, kereta kami akhirnya tiba di Stasiun Kurama.
Saat menengok ke area luar stasiun, hujan salju ternyata turun jauh lebih lebat.
Anak saya kontan menjadi semakin antusias.

Suasana menjelang malam bersalju di Stasiun Kurama ini benar-benar terasa begitu syahdu.


Sekitar pukul 17:05 JST, kami mulai melangkahkan kaki keluar dari bangunan Stasiun Kurama.
Nuansa syahdu di salah satu destinasi wisata populer di Kyoto, Jepang, ini seolah menyambut kedatangan kami dengan hangat.



Tepat di area sekitar Stasiun Kurama, terdapat beberapa toko yang menjajakan aneka suvenir.
Jika Anda berkunjung ke sini dan ingin mencari buah tangan khas Kurama seperti gantungan kunci, magnet kulkas, atau pernak-pernik lainnya, Anda bisa dengan mudah membelinya di toko-toko tersebut.



Saat berjalan melewati deretan toko suvenir tersebut, sayup-sayup kami mendengar suara tawa riang anak-anak.
Suara siapakah itu?


Usut punya usut, ternyata ada teman-teman dari Indonesia yang juga sedang asyik bermain di sana.
Mereka bahkan sudah datang lebih awal, tepatnya sejak siang hari tadi.


Anak saya tentu saja sangat senang bisa bertemu dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Langit pun berangsur gelap, menandakan waktu malam di Kyoto telah sepenuhnya tiba.





Hujan salju terasa turun semakin lebat.
Anak-anak justru semakin riang gembira berkejaran.



Jujur saja, tangan saya perlahan mulai terasa nyeri dan kebas akibat cuaca yang membeku ini.
Ajaibnya, anak-anak tetap saja asyik bermain riang seolah kebal dari rasa dingin.

Ketika saya menengadahkan kepala memandang ke arah langit malam, pemandangan berupa rintik salju deras inilah yang saya saksikan.



Anak-anak tampak sibuk mengumpulkan salju yang menumpuk tebal di atas sebuah mobil yang terparkir di area stasiun.
Mobil tersebut sebenarnya adalah mobil toko yang biasa difungsikan untuk berjualan makanan.
Berhubung hari sudah beranjak malam, kedai mobil tersebut sudah tutup.




Untuk menghangatkan badan, saya melangkah menuju sebuah vending machine (mesin penjual otomatis) yang memajang aneka pilihan minuman.
Tentu saja, pikiran pertama saya adalah membeli sekaleng minuman yang masih panas.

Tak lama kemudian, rombongan teman-teman kami memutuskan kembali ke dalam stasiun.
Mereka bersiap untuk pulang lebih dulu lantaran sudah berada di sini sejak siang hari.
Menyerah pada hawa dingin, saya pun mengekor ikut masuk ke dalam area dalam stasiun.

Begitu memasuki ruangan dalam stasiun, udara langsung terasa jauh lebih hangat.
Tersedia deretan kursi yang nyaman untuk duduk sejenak.
Uniknya, selain mesin minuman, di sini juga terdapat vending machine khusus yang menjual suvenir seperti sapu tangan, buku catatan kecil, gantungan kunci, dan aneka cendera mata lainnya.



Setelah mengantar teman-teman naik ke dalam gerbong kereta kepulangan mereka, saya dan keluarga memutuskan untuk kembali keluar stasiun.
Kami masih ingin merasakan sensasi salju sedikit lebih lama.

Namun ternyata, hujan salju di luar sudah benar-benar reda.
Yang tersisa kini hanyalah embusan hawa dingin yang menusuk tulang.
Ditambah suasana yang tiba-tiba berubah sangat sunyi.
Ini adalah pengalaman perdana saya menjejakkan kaki di Stasiun Kurama.
Saya baru menyadari bahwa stasiun yang berada di ujung lintasan Eizan Railway ini ternyata berubah menjadi kawasan yang sangat sepi saat malam tiba.
Awalnya saya mengira kesunyian ini hanya disebabkan oleh cuaca bersalju yang lagi seru-serunya alias deras-derasnya.
Namun setelah iseng mengecek peta, saya baru paham bahwa kawasan ini memang tidak memiliki banyak permukiman warga.

Merasakan sunyinya suasana, kami pun memutuskan kembali masuk ke area dalam stasiun saja.

Menariknya, di dalam area stasiun kami justru bertemu dengan teman kami sesama orang Indonesia yang juga belum pulang.
Anak saya pun langsung mendapat teman baru dan kembali asyik bermain bersama.


Sesaat kemudian, sebuah kereta baru saja tiba di peron.
Setelah menurunkan seluruh penumpangnya, armada kereta ini akan berangkat lagi meninggalkan Stasiun Kurama untuk pergi ke Stasiun Demachiyanagi (出町柳駅), yang merupakan stasiun ujung Eizan Railway di sisi lainnya.
Ini adalah kereta yang bisa kami tumpangi untuk pulang ke rumah.
Tetapi, karena kami masih ingin sedikit berlama-lama menikmati keheningan malam di Kurama, kami pun memutuskan untuk melewatkannya dan menunggu jadwal kereta yang selanjutnya saja.

Kendati hati rasanya belum benar-benar puas, hari yang semakin beranjak larut memaksa kami untuk bersiap melangkah pulang menuju rumah.


Saking penasarannya, keesokan harinya kami balik lagi ke Kurama, khusus demi merasakan pesona salju di bawah terangnya sinar matahari siang.
Sebagaimana saya ceritakan di postingan wisata musim dingin (winter) Kurama di Kyoto, selanjutnya di blog ini.
Selamat menikmati tulisan-tulisan di blog ini!
Baca Juga: Petualangan Salju Siang Hari di Gunung Kurama Kyoto

Leave a Reply to fanny Nila – dcatqueen.comCancel reply